City to Surf 2018

Hari minggu yang lalu, saya ikut berpartisipasi di sebuah event lari tahunan di Perth yang bernama City to Surf. Acara ini mungkin acara lari terbesar di Australia barat. Setiap tahun, acara ini diikuti oleh ribuan peserta dari segala usia dan kelas lomba. Tahun ini pun demikian, ribuan peserta tumpah ruah di jalan, berlari atau berjalan bersama dari pusat kota Perth ke arah pantai.

Saya ikut sebagai peserta lari 12km dan ini merupakan 12km pertama saya. Walaupun tanpa persiapan yang serius sebelumnya (karena sudah lama tidak latihan lari rutin), alhamdulillah saya mampu menyentuh garis finish dalam waktu kurang lebih 1.5 jam. Iya, memang cukup lambat namun saya senang saya mampu mempertahankan laju lari sepanjang 12 kilometer.

IMG_1931

Sesampainya di garis finish, saya langsung mencari tenda milik perusahaan di mana saya bekerja sekarang. Di situ ada makanan, minuman dan yang paling saya cari, pijat gratis!

Setelah mengambil minuman dan buah sekedarnya, saya langsung mengantre untuk dipijat. Yang memijat adalah para tukang pijat profesional, sehingga pijatannya juga benar-benar diarahkan untuk melemaskan kembali otot-otot yang tegang sehabis lari. Mantap deh pokoknya!

Kelar pijat, giliran beberapa roti, sosis dan telur mata sapi yang saya sikat. Saking kalapnya, saya sampai lupa minum. 😀

Saya kembali ke rumah menggunakan bus Trans Perth yang sudah disediakan oleh panitia. Gratis!

Kembali ke Perth

Sekitar dua minggu yang lalu, saya berangkat dari tanah air menuju ke kota Canberra dan tinggal di sana selama seminggu. Setelah itu, saya sempat mampir ke Sydney dan menghabiskan 2 malam di kota tersebut sebelum akhirnya terbang ke kota Perth kemarin sore.

Saya dan keluarga pernah tinggal di kota ini (Perth) sejak tahun 2010 hingga 2012. Saat itu, anak-anak masih sangat kecil. Anak saya yang kedua, Bima, bahkan baru berusia 2 bulan saat dia harus melakukan perjalanan udara untuk pertama kalinya dari Jakarta ke Perth.

Saat ini, saya pindah ke Perth karena alasan pekerjaan. Kebetulan ada perusahaan yang berbaik hati menawarkan sebuah pekerjaan untuk jangka waktu setahun di sini. Karena saya sedang mencari pekerjaan, tentu tawaran seperti ini tidak bakalan saya tolak.

Ini berarti rencana kami semula untuk tinggal di Canberra harus disesuaikan lagi karena sekarang kami harus mengatur ulang semuanya di kota Perth. Sebenarnya saya malah lebih senang tinggal di Perth karena selain kotanya lebih besar, jaraknya ke tanah air juga lebih dekat dibandingkan kota-kota lain di pantai timur Australia.

Sekarang saya masih punya waktu sekitar seminggu untuk mulai mengurus hal-hal yang mendasar seperti mencari tempat tinggal, mendaftarkan diri ke Medicare, mengurus pajak dan sebagainya.

Oh iya, istri dan anak-anak saya sekarang masih berada di Indonesia. Mereka akan menyusul kemari sekitar sebulan lagi. Jadi untuk sementara saya kembali menjadi bujangan lokal. Hehe.

Sampai Jumpa Lagi, Qatar

Setelah 3 tahun dan 10 bulan kami tinggal di Doha, Qatar, akhirnya kami akan meninggalkan negeri ini untuk bermigrasi ke negara lain, Australia. Ini memang bukan sebuah keputusan yang mudah karena saya harus mengundurkan diri dari perusahaan yang sekarang dan mesti mencari pekerjaan lain setibanya di Australia nanti. Apalagi kami juga terpaksa akan berpisah dengan banyak teman di sini, yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri.

Namun karena tekad kami ingin memulai hidup baru di negara kangguru tersebut sudah bulat, maka bismillah beberapa hari lagi kami akan terbang meninggalkan Qatar untuk pulang ke tanah air. Rencananya kami akan berlebaran dulu di Indonesia serta meluangkan waktu sejenak sebelum pindah ke Australia.

Untuk sementara ini, kota tujuan kami di Australia adalah Canberra. Kenapa Canberra? Ceritanya Panjang, mungkin akan saya tulis di sini di lain waktu.

Kami akan tinggal di Australia menggunakan visa Permanent Resident (PR). Dengan visa tersebut, mudah-mudahan saya bisa lebih mudah mencari pekerjaan di sana. Selain itu, sebagai pemegang visa PR, kami juga akan bisa mendapatkan jaminan kesehatan (semacam BPJS kesehatan) dan anak-anak pun bisa kami daftarkan ke sekolah publik secara gratis.

Semoga semuanya dilancarkan. Aamiin.

Berkunjung ke Canberra

Sebuah kota kecil yang menyenangkan. Itulah kesan saya terhadap Canberra, ibukota negeri kangguru Australia, setelah berkunjung ke sana selama seminggu.

Saya dan keluarga mesti menempuh perjalanan selama 14 jam dari Doha ke Sydney dan setengah jam dari Sydney ke Canberra, belum termasuk transit di Sydney sekitar satu jam.

Melelahkan memang, namun demikian rasa lelah itu terbayar setelah kami melewati hari-hari di kota yang disebut sebagai bush capital ini. Kota ini memang masih amat sangat ‘hijau’ dengan semak belukar, pepohohan dan hutan-hutan kecilnya.

Walaupun tak seramai dan sebesar Sydney, Melbourne ataupun Perth, bukan berarti Canberra membosankan. Cukup banyak tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi oleh para turis, seperti National Museum of Australia, Parliament House, Australian War Memorial, Lake Burley Griffin dan masih banyak yang lainnya.

Kalau untuk anak-anak, National Zoo & Aquarium, The National Dinosaur Museum dan Questacon (National Science & Technology Centre) sangat layak untuk disambangi. Selain bermain dan bersenang-senang, anak-anak bisa belajar banyak hal di tempat-tempat tersebut.

Awalnya kami agak skeptis dengan kota ini. Saya bahkan mengira liburan kami bakal membosankan. Namun ternyata liburan kami yang seminggu ini menjadi padat terisi dengan banyak kegiatan atau kunjungan yang tidak kami agendakan sebelumnya. Dan yang lebih penting lagi, anak-anak sangat menikmatinya!

Untuk urusan perut, kami tak perlu khawatir karena berbagai macam rumah makan dengan beraneka ragam masakan sangat mudah ditemui. Tinggal pilih sesuai selera dan budget. 

Sayembara Logo IMSQA

Beberapa minggu yang lalu, IMSQA atau Indonesian Muslim Society in Qatar, sebuah organisasi kemasyarakatan di Qatar, membuka sebuah sayembara untuk mengganti logo mereka dengan sebuah logo yang baru. Saya langsung tertarik dan akhirnya mengirimkan 2 (dua) buah rancangan ke panitia sayembara.

Sekitar seminggu lebih berselang, alhamdulillah saya mendapat kabar bahwa panitia memutuskan untuk memilih salah satu usulan logo saya sebagai logo pemenang, sekaligus menjadi logo resmi IMSQA.

Mudah-mudahan logo yang baru membawa berkah dan kebaikan bagi IMSQA dan masyarakan muslim di Qatar. Dan bagi saya pribadi, mudah-mudahan ini menjadi pemicu supaya bisa terus berkreasi dan berkembang menjadi lebih baik. Aamiin.

Foto di bawah adalah saat penyerahan hadiah oleh pengurus IMSQA di Masjid Al-Hitmi, Doha, Qatar. Yang menjadi latar belakang adalah logo resmi IMSQA sekarang.

e71b71cc-d4c3-4ec2-969d-d9cfbb866ba1

The Daily Logo Challenge

Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba berpartisipasi dalam The Daily Logo Challenge,  di mana saya mesti membuat sebuah logo setiap hari selama 50 hari. Tema logo dikirim melalui email tiap hari. Saya kemudian akan membuat dan kemudian di-share di akun media sosial (saya memilih akun Instagram).

Tujuan dari challenge ini salah satunya adalah membiasakan diri untuk berpikir secara kreatif dalam waktu yang singkat, untuk kemudian dituangkan dalam bentuk sebuah logo. Tapi manfaat yang paling saya rasakan setelah melewati 50 hari adalah kemampuan dalam menguasai aplikasi Adobe Illustrator. Saya tak punya pengalaman dalam menggunakan Illustrator. Sebelum mengikuti challenge ini, saya hanya belajar dasar-dasar menggunakan Illustrator dari YouTube. Sekadar bisa membuat logo dengan bentuk-bentuk dan warna yang sederhana.

Tapi dengan mengikuti The Daily Logo Challenge, mau tak mau saya harus belajar lebih dalam lagi. Misalnya, saat saya ingin membuat sebuah gradasi warna yang apik pada rancangan logo saya, saya mesti mencari cara membuat gradasi di YouTube atau sumber internet yang lain. Jadi secara tak langsung, challenge ini memaksa saya untuk mencari tahu hal-hal yang tidak saya ketahui sebelumnya.

Saya juga banyak menggunakan layanan Pinterest dan Dribbble sebagai sumber ide dalam merancang sebuah logo. Dari situ pula saya belajar bermacam-macam style orang dalam merancang sebuah logo. Saya sendiri cenderung suka gaya yang simpel dan minimalis, walaupun ternyata merancang logo yang minimalis itu amatlah susah. 😀

Tema-tema yang saya terima setiap hari dari The Daily Logo Challenge sangat beragam dan cukup menantang. Kadang saya suka dengan tema yang diberikan, tapi tak jarang juga saya tak terlalu bersemangat untuk membuat logo dengan tema tertentu. Namun, pada akhirnya toh saya harus membuat sebuah logo. Hasilnya, kualitas logo yang saya buat juga beragam. Kadang (menurut saya) bagus, kadang jelek sekali sampai saya malu untuk mem-posting-nya di Instagram. 😀

Silakan mengunjungi akun Instagram saya: his randomness, dengan tagar #dailylogochallenge, untuk melihat logo-logo yang sudah saya bikin untuk challenge ini.

Kalau ingin ikutan juga, silakan daftarkan emailmu di The Daily Logo Challenge.

Berkemah (lagi) di Pinggir Pantai Al Thakira

Kami baru saja pulang dari pantai Al Thakira, tempat di mana kami berkemah semalam bersama dengan beberapa teman dan keluarga. Hari ini adalah hari libur nasional di Qatar dalam rangka National Sports Day.

Kalau tidak salah, ini adalah kali ke-5 kami berkemah selama tinggal di Qatar. Dan seperti biasa, berkemah selalu menyenangkan dan menyegarkan pikiran.

Pantai Al Thakira ini berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari rumah kami di Wakrah. Kami tiba di sana saat matahari sudah tenggelam dan segera mendirikan tenda dengan mengandalkan penerangan dari lampu mobil saja. Untungnya tenda zaman now mudah sekali disiapkan, sekali dibuka langsung terbentang.

Setelah tiap keluarga selesai dengan tendanya masing-masing, kami pun bersama-sama menyiapkan tenda untuk tempat makan. Menu makannya beragam, mulai dari nasi Mandi, daging kambing, ayam bakar, mie bakso, sate, ikan bakar hingga beraneka macam kue dan buah. Komplit lah pokoknya.

Selesai makan, sebagian dari kami ada yang asyik bernyanyi diiringi oleh gitar. Ada juga yang masih tekun membakar ikan dan daging. Ada yang mengobrol sambil menikmati cemilan yang berlimpah. Sementara anak-anak bermain dan berlarian ke sana kemari.

Malam itu saya masuk ke tenda lebih awal karena mengantuk. Sementara yang lain terus lanjut bernyanyi dan gegitaran entah sampai jam berapa. Hawa mulai terasa lebih dingin karena terpaan angin laut.

Keesokan paginya, sambil menikmati segarnya udara pagi, kami menikmati hangatnya kopi atau teh, serta bakso kuah dan mie sisa semalam yang masih terasa lezat. Sebagian anak-anak ada yang bermain kayak hingga ke pulau kecil di seberang. Sebagian lagi terlihat seru bermain air dan pasir.

Setelah selesai beberes, tentu kami tak melewatkan kegiatan yang satu ini: berfoto bersama, sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Mendapat Visa Permanent Resident Australia

Hari ini saya menerima kabar bahwa aplikasi pengajuan visa Permanent Resident (PR) Australia kami sudah dikabulkan. Itu artinya saya sudah bisa mencari kerja di Australia. Selain itu, kami sekeluarga sudah bisa tinggal di sana tanpa batasan waktu tertentu. Nanti setelah kami tinggal di Australia, kami akan bisa mengakses layanan-layanan publik seperti jaminan kesehatan dan pendidikan. Anak-anak, misalnya, bisa bersekolah di sekolah publik tanpa dipungut iuran sekolah.

Saya sebenarnya sudah memulai proses pengajuan visa ini sejak 1.5 tahun yang lalu melalui jasa sebuah konsultan imigrasi di Doha. Awalnya saya berniat mengurus semuanya sendiri, namun atas saran seorang teman, saya memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan imigrasi.

Menurut saya, menggunakan jasa konsultan sangat membantu terutama untuk memastikan agar seluruh syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Selain itu, konsultan juga lebih memahami “medan” dan seluk beluk keimigrasian di negara yang sedang kita tuju.

Ada beberapa jalur yang bisa ditempuh untuk mendapatkan visa PR Australia dan salah satu di antaranya adalah melalui jalur skilled worker yang disponsori oleh salah satu state (negara bagian) di Australia (atau dikenal juga sebagai Visa PR 190). Jalur inilah yang saya tempuh melalui bantuan konsultan imigrasi tersebut. Pilihan ini kami pilih setelah mempertimbangkan beberapa faktor antara lain pengalaman kerja, jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan saya sebagai main applicant.

Secara sederhana, proses pengajuan visa melalui jalur ini bisa dibagi menjadi 2 tahap utama:

  1. Mencari sponsorship dari salah satu state
  2. Mengajukan permohonan visa ke departemen imigrasi Australia berbekal sponsorship dari salah satu state

Sponsorship dari state bisa didapatkan apabila state yang bersangkutan membuka lowongan jenis pekerjaan (bukan lowongan pekerjaan ya) yang mereka butuhkan. Daftar jenis pekerjaan (atau occupation list) ini akan selalu berubah setiap waktu, tergantung dari kebutuhan tenaga kerja di state tersebut. Nah, kalau kebetulan jenis pekerjaan yang kita miliki cocok dengan salah satu jenis pekerjaan yang dibuka oleh suatu state tertentu, maka kita bisa mengajukan permohonan sponsorship dari state yang bersangkutan.

Untuk tahap yang pertama, ada banyak sekali dokumen yang harus disiapkan seperti ijazah, surat keterangan dari perusahaan tempat saya (pernah atau masih) bekerja, surat keterangan gaji, akta lahir (termasuk anggota keluarga), dan lain sebagainya. Konsultan imigrasi dalam hal ini membantu dalam mengecek kelengkapan dokumen, dan jika ada dokumen yang belum lengkap ataupun formatnya tidak sesuai dengan yang telah ditentukan, mereka akan menginformasikan kepada saya untuk melengkapi atau membetulkan formatnya.

Mereka kemudian akan mengumpulkan semua dokumen untuk disiapkan jika ada state yang membuka jenis pekerjaan yang cocok dengan profil saya. Proses menunggu ini tidak bisa diprediksi waktunya, karena seperti yang saya sebutkan di atas bahwa daftar jenis pekerjaan atau occupation list dari masing-masing state selalu berubah.

Beruntung bagi saya, beberapa bulan setelah saya mempersiapkan kelengkapan dokumen, salah satu state membuka lowongan jenis pekerjaan yang cocok dengan profil saya. Pihak konsultan imigrasi langsung menghubungi saya untuk menyiapkan beberapa dokumen lagi dan menulis essay tentang state tersebut sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan sponsorship.

Waktu yang tersedia sejak lowongan tersebut dibuka hingga ditutup hanya seminggu. Namun alhamdulillah saya berhasil memasukkan semua dokumen yang diperlukan sebelum deadline.

Setelah itu saya masih harus menunggu sekian bulan hingga pada suatu hari saya mendapatkan informasi bahwa saya mendapatkan sponsorship dari state tersebut. Proses berikutnya adalah mengajukan aplikasi untuk visa PR 190 kepada pihak departemen imigrasi Australia berbekal sponsorship tadi.

Ada beberapa dokumen lagi yang harus saya siapkan untuk kemudian dikirim ke mereka, di antaranya adalah surat keterangan berkelakuan baik (good character) dari semua negara yang pernah saya tinggali selama 10 tahun terakhir. Itu berarti saya harus mengumpulkan surat keterangan dari pihak kepolisian di Australia, Qatar dan Indonesia. Untungnya proses untuk mendapatkannya tidak terlalu susah, termasuk yang dari kepoliisian di Indonesia.

Syarat lain lagi yang harus dipenuhi adalah tes kesehatan bagi saya, istri dan kedua anak saya. Pada saat itu, kami sedang berada di Jakarta, sehingga kami melakukan tes kesehatan di salah satu rumah sakit yang ditunjuk oleh pihak pemerintah Australia, yaitu RS Premier Bintaro. Prosesnya selesai dalam satu hari dan hasilnya langsung dikirim ke department imigrasi di Australia.

Dari sini, saya masih harus menunggu sekitar 2 bulan lagi sebelum akhirnya saya mendapat kabar kalau permohonan visa PR saya dikabulkan. Sebenarnya ini lebih cepat dari perkiraan saya, yaitu sekitar 6 bulan. Tapi alhamdulillah baru 2 bulan, prosesnya sudah selesai.

Tahapan berikutnya adalah mengaktifkan visa PR ini dan untuk itu kami sekeluarga harus masuk ke Australia sebelum bulan Juni tahun depan (2018). Itu berarti kami harus segera menyusun rencana perjalanan ke sana.

Semoga dilancarkan. Aamiin.