Sate Domba Pak Ismail

Kurang lebih dua minggu yang lalu, ketika saya sedang bertugas di Jakarta, seorang teman mengajak saya untuk mencoba makan sate domba. Ingatan saya langsung terbang pada sebuah tontonan acara televisi tentang wisata kuliner beberapa waktu sebelumnya. Iya, saya memang pernah menonton liputan tentang sate domba tersebut. Maka saya langsung mengiyakan ajakan teman saya tersebut.

Tapi ternyata teman saya ini juga belum tahu persis dimana alamat si sate domba ini. Untungnya, paman Google sangat membantu. Dari beberapa blog, akhirnya kami bisa mendapatkan alamat lengkap penjual sate domba ini. Ternyata, lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor saya, yaitu di daerah petamburan. Maka, dengan berbekal alamat dan informasi dari blog2 tersebut, berangkatlah kami menuju sate domba tersebut.

Tapi ternyata mencari alamat yang dituju tak semudah yang dibayangkan. Setelah menyusuri jalan KS Tubun (sesuai alamat yang kami dapatkan), lokasi penjual sate domba tersebut tidak berhasil kami temukan. Alhasil, karena waktu istirahat yang terbatas, hari itu kami memutuskan untuk makan siang di Sate Jono. Hehehe….yang penting sama2 sate deh. :p

Keesokan harinya, karena masih penasaran, kami (bertiga) berniat untuk mencari lokasi sate domba tersebut. Salah satu petunjuk yang didapat adalah bahwa lokasinya bersebelahan dengan gedung Indonesia Power dan Museum Tekstil. Maka kami pun menelpon gedung Indonesia Power.

Kebetulan yang menerima telepon kami adalah seorang petugas Satpam. Awalnya kami menanyakan dimana lokasi gedung atau kantor Indonesia Power yang berada di daerah Petamburan. Setelah berbasa-basi, bertanya tentang ini dan itu, teman saya mengakhiri pembicaraan dengan pertanyaan:

“Jadi, kantor Indonesia Power itu di sebelah mananya penjual sate domba ya pak?”

Dan langsung dijawab:

“Waaah, pas di sebelahnya pak. Sate domba-nya pak Ismail, kan? Kantor kami tepat bersebelahan dengan tempat berjualannya.”

Berarti, kami tinggal mencari dimana lokasi kantor Indonesia Power di Petamburan. Kali ini, kami tidak diantar oleh supir kantor, melainkan menggunakan taksi. Untungnya sang supir taksi tahu persis lokasi gedung Indonesia Power di Petamburan, walaupun dia tidak tahu kalau di sebelahnya ada penjual sate domba yang cukup terkenal.

Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di depan gedung Indonesia Power. Kami berjalan ke arah samping, di situ ada sebidang tanah lapang dengan beberapa orang penjual di depannya. Dari jalan, tak tampak petunjuk apapun tentang keberadaan penjual sate domba. Tapi sekilas kami melihat kepulan asap tipis dari arah belakang tanah lapang ini.

Kami pun masuk ke area tanah lapang tersebut, dan ternyata…benar! Di situ ada beberapa orang sedang sibuk memotong2 daging dan mengipas2 pembakaran sate. Aroma daging domba pun langsung tercium.

Tempatnya tidak terlalu luas. Sudah ada beberapa pengunjung yang tengah menikmati hidangan sate domba, padahal saat itu baru pukul 11 lewat 15 menit (sate domba ini katanya mulai buka pukul 11 siang hingga pukul 14 atau 15 sore).

Begitu datang, kami langsung diarahkan untuk memilih daging domba yang ditampung pada sebuah baskom besar. Daging2 tersebut sudah dipotong2 dalam potongan yang cukup besar. Untuk kami bertiga saja, 2 potong daging domba tersebut sudah sangat cukup.

Setelah memilih daging, kami pun memesan nasi dan pisang goreng. Yup, pisang goreng. Kelihatannya memang menyantap sate domba ini lebih pas dipasangkan dengan pisang goreng. Sembari menunggu pesanan, kami pun duduk di meja di salah satu sudut warung yang sederhana ini.

Tak lama seorang pelayan menghampiri meja kami kemudian meletakkan sebotol sambel lampung, sebotol mayones, dan kecap manis. Lalu dia meracik ketiga bahan tersebut di atas sebuah piring koson. Katanya, ini sambal buat sate dombanya.

Nasi putih dan sepiring pisang goreng yang sudah dipotong2 pun datang. Kami langsung mencicipi pisang goreng yang dicocolkan ke dalam racikan sambal tadi. Rasanya manis dan gurih.

Tak terasa kami sudah menghabiskan separuh piring pisang goreng ketika seorang pelayan mengantarkan daging domba dalam sebuah nampan. Walaupun disebut sate, tapi daging2 tersebut tidak ditusuk2 layaknya sate yang kita kenal. Daging2 tersebut hanya dipotong2 seukuran ibu jari.

Tanpa dikomando lagi, kami langsung melahap hidangan sate domba dengan cocolan sambel lampung dicampur mayones dan kecap manis serta nasi putih dan pisang goreng. Rasanya lezat. Dagingnya lembut dan tidak mempunyai aroma sekuat daging kambing.

Harganya juga tidak terlalu mahal. Satu potong daging domba dihargai 35 ribu rupiah. Rasanya kalau ada kesempatan untuk ditugaskan di Jakarta lagi, saya ingin menyantap sate domba pak Haji Ismail ini lagi.

Gambar2 di bawah ini saya dapatkan dari blog makansanasini.

Informasi tambahan bisa dilihat di blog ini.

2 thoughts on “Sate Domba Pak Ismail

  1. heuumm.. nyam! enak nih. eh, dalam beberapa minggu ke depan kayaknya aku bakal ke jakarta, ada training. kamu kapan ke jakarta lagi?? pengen ketemuan deh cerita cerita.. uhuhuhu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s