Mencari Tool Produktivitas yang Cocok

Dari dulu saya paling suka melihat-lihat aplikasi-aplikasi bergenre Productivity, baik itu yang di iOS, Palm (dulu), Symbian (dulu) maupun di Mac. Fungsi aplikasinya bermacam-macam, ada yang berhubungan dengan kalender, to-do list, reminder, kontak dan sebagainya.

Namun, di antara semua jenis aplikasi bergenre ini, yang paling sering saya coba adalah yang berjenis to-do list. Alasannya? Ya karena saya suka saja.

Mungkin sudah puluhan jenis aplikasi to-do list yang pernah saya coba, namun yang benar-benar berkesan buat saya hanya ada beberapa, yaitu Things, TaskPaper, dan OmniFocus.

Untuk OmniFocus, terus terang saja dulu saya mencoba versi bajakannya dan itupun tak lama, karena walaupun menurut saya aplikasi ini sangat bagus dan komplit (itulah mengapa saya terkesan), banyak fitur yang tak saya butuhkan. Buat saya aplikasi ini terlalu lengkap dan tidak simpel. Tapi sekali lagi, OmniFocus mungkin adalah aplikasi to-do list yang paling lengkap fiturnya dan keren.

Saya suka dengan TaskPaper dan sempat menggunakannya selama kurang lebih setengah tahun. Aplikasi ini juga sangat handal dan mudah digunakan. Bisa sync over-the-air (OTA) pula. Keintiman saya dengan aplikasi ini terhenti karena waktu itu saya harus pindah ke Perth dan selama beberapa saat saya sama sekali tak menyentuhnya. Setelah itu sayangnya saya tak menemukan mood untuk menggunakannya lagi.

Nah, sekarang saya sedang mencoba menggunakan Things (kembali). Ya dulu saya pernah menggunakannya di iPhone, tapi tak bertahan lama karena mengatur banyak task di iPhone ternyata bukan pengalaman yang cukup mengasyikkan. Sinkronisasi dengan Mac bisa dilakukan hanya via Wi-Fi. Harga aplikasi ini di Mac juga tergolong mahal.

Tapi konon katanya Things sedang menyiapkan fitur sinkronisasi awan, sehingga nantinya pengguna bisa melakukan sinkronisasi antar Mac, iPhone dan iPad di mana saja dan kapan saja. Saya tak sabar menunggu kapan fitur ini diluncurkan.

Kembali ke laptop.

Setelah menabung cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk membeli versi Mac-nya. Sebelumnya saya juga telah menginstal versi iPad-nya. Jadi sekarang saya punya semua versi Things: di iPad, iPhone dan di iMac. Namun untuk mempermudah hidup saya saat ini, saya hanya menginstal di iPad dan iMac saja. Saya tak menginstalnya di iPhone.

Beberapa hari ini saya mulai menginventarisasi seluruh task saya dan berusaha mengelompokkannya dalam projects. Semua saya awali dengan Things di iMac karena lebih mudah dan cepat dalam hal penginputannya. Setelah semuanya selesai, saya lakukan sinkronisasi dengan iPad via Wi-Fi. Prosesnya lancar tanpa hambatan sama sekali.

Keesokan harinya, saya bekerja di kantor dengan bantuan to-do list yang sudah saya buat pada malam sebelumnya tersebut. Setiap ada task yang selesai dikerjakan, saya check. Hasilnya, selama beberapa hari ini, saya masih sering berhutang 1 – 2 task yang belum dikerjakan karena berbagai alasan. Incomplete task tersebut kemudian di-carry over ke hari berikutnya. Begitu seterusnya.

So far saya sih masih nyaman saja melakukannya dengan cara seperti itu. Apalagi kebetulan saya sedang banyak “project” sehingga Things cukup membantu memonitor work load dan to-do list saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s