random thoughts

Tulisan ini tulisan ngawur saja. Kepala berat dan penat sehabis digeber meeting 4 hari dan sekarang belum bisa diajak mikir lagi. Jadi lebih baik saya menulis hal yang paling absurd yang ada di kepala saya saat ini.

Ini tentang negara saya yang sangat saya cintai, Republik Indonesia.

Rasanya tiada hari yang terlewatkan tanpa berita yang menyedihkan nan miris dari tanah air, terutama yang berhubungan dengan kata-kata berikut: politisi, pemerintah, anggota DPR, polisi, jaksa, hakim dan pengadilan. Bagi saya dan jutaan rakyat Indonesia yang lain, hal ini tentu amat sangat memilukan karena kepada merekalah rakyat mempercayakan negara ini untuk dikelola. Tapi virus korupsi telah membuat mereka semua menjadi busuk dan menjijikkan.

Indonesia itu ibarat seseorang yang sedang menderita kanker ganas yang begitu mengerikan, sudah menjalar ke seluruh tubuh dan tak bisa disembuhkan. Jadi, kalau ada yang bilang Indonesia akan menjadi negara besar, negara makmur, negara maju atau apalah itu istilahnya, akal sehat saya tak bisa menerima. Bagaimana bisa sebuah negara yang sedang sekarat digerogoti oleh kanker korupsi bisa menjadi negara yang makmur dan maju? Bagaimana mungkin Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain kalau pemerintah dan penyelenggara negara lainnya masih korup?

Sebelum korupsi bisa diberantas (paling tidak ditekan secara radikal) dan pemerintahnya bersih, jangan harap rakyat Indonesia bisa hidup makmur dan sejahtera.

Hal lain yang menurut saya juga menghambat Indonesia menjadi negara yang maju dan makmur adalah sistem pemerintahan yang sekarang. Dengan luas wilayah yang meliputi lautan dan daratan, ribuan pulau, dari Sabang hingga Merauke, pola pemerintahan yang tersentralisasi seperti sekarang amat sangat tidak tepat diterapkan. Memang sih sekarang ada yang namanya otonomi daerah yang katanya memberikan kewenangan yang lebih luas kepada daerah untuk mengelola wilayahnya masing-masing, tapi menurut saya hal ini masih kurang maksimal.

Menurut saya, supaya rakyat Indonesia bisa hidup lebih makmur, yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia itu perlu dibubarkan saja dan dipecah-pecah menjadi negara-negara yang lebih kecil. Biarkan daerah mengelola dirinya masing-masing dan menentukan nasibnya sendiri-sendiri. Asalkan korupsi bisa diberantas, saya percaya negara-negara pecahan Indonesia tadi akan berubah menjadi negara-negara yang makmur dan sejahtera.

Jadi intinya, harus ada yang namanya REVOLUSI. Tujuannya adalah membubarkan NKRI dan memberi kesempatan daerah untuk mengatur dirinya sendiri: dengan kata lain, menjadi negara yang berdaulat.

Setelah negara berhasil dibubarkan dan masing-masing daerah mendeklarasikan kemerdekaannya masing-masing, pemerintahan harus reset to zero. Jangan ada pejabat masa lalu yang menjadi pejabat di negara baru. Terapkan hukuman yang seberat-beratnya kepada koruptor dan bentuk semacam dewan pengawas korupsi yang netral dan bersih sehingga dipercaya dan disegani oleh rakyat.
Langkah berikutnya adalah membentuk pemerintahan yang sesuai dengan karakter masing-masing daerah. Kalau rakyat menghendaki negara demokratis, bikin negara demokrasi. Kalau rakyatnya lebih memilih tunduk kepada raja, bikin negara kerajaan tapi yang demokratis juga.

Saya membayangkan skenarionya begini:

Suatu hari, karena desakan dari rakyat di seluruh penjuru Indonesia, akhirnya pemerintah pusat dan DPR RI menyatakan bahwa negara NKRI bubar. Segera setelah itu, masing-masing daerah segera berkonsolidasi untuk menentukan bagaimana dan seperti apa negara pecahan akan dideklarasikan.

Mungkin akan segera ada deklarasi kemerdekaan dari negara Aceh, negara Tapanuli, negara Riau dan sebagainya. Situasi mungkin akan sedikit kacau, tapi asalkan rakyat bisa tetap tenang dan suplai kebutuhan pokok terjaga, semua akan baik-baik saja.

Setelah deklarasi kemerdekaan, yang harus langsung segera dibentuk adalah dewan pengawas korupsi dahulu. Ini semacam lembaga luar biasa yang beranggotakan para tokoh masyarakat yang benar-benar bersih dan dipercaya oleh rakyat. Setelah dewan ini terbentuk, baru dipilihlah kepala negara dan kepala pemerintahan serta dibentuklah perangkat-perangkat negara yang lain sesuai kebutuhan.

Dewan pengawas korupsi ini harus mempunyai posisi yang kuat, bahkan mungkin sejajar dengan kepala negara. Dalam arti, seorang kepala negara atau raja sekalipun harus “tunduk” kepada dewan ini, dalam hal pengawasan dan penegakkan hukum untuk korupsi.

Pengadilan harus dibersihkan dari hakim-hakim masa lalu. Hakim-hakim diseleksi lewat mekanisme yang transparan dan ketat. Kinerja hakim diawasi langsung oleh dewan pengawas korupsi dan rakyat. Kejaksaan dan kepolisian juga di-reset to zero. Semua jaksa masa lalu harus disingkirkan. Badan kepolisian dibentuk dari awal lagi dan harus dikelola secara profesional dan bersih.

Semua pejabat masa lalu dilarang sama sekali berkiprah di pemerintahan lagi. Mantan pegawai pemerintahan harus mengikuti seleksi yang ketat untuk bisa duduk di pemerintahan lagi.

Perundangan-undangan dibuat oleh sebuah badan legislatif yang bersih dan diawasi langsung oleh dewan pengawas korupsi dan rakyat. Anggotanya dipilih langsung oleh rakyat, digaji secara transparan, dipekerjakan secara full-time, dinilai secara profesional, dan diwajibkan untuk mengundurkan diri dari segala posisi di perusahaan atau lembaga lainnya.

Hukuman buat para koruptor dibuat seberat-beratnya. Hukuman untuk tindak pidana korupsi yang teringan minimal adalah 20 tahun penjara dan diumumkan kepada publik seluas-luasnya. Yang terberat adalah hukuman pancung. Tidak ada perlakuan khusus untuk narapidana tipikor.

Pajak diatur oleh sebuah badan independen yang diawasi oleh dewan pengawas korupsi dan diaudit secara ketat dan transparan. Laporan pajak harus diumumkan seluas-luasnya dan setransparan mungkin kepada rakyat.

Apa lagi ya?…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s