tentang atheist

Sudah pukul 12 malam dan mata sudah lelah, tapi tidak bisa tidur. Lebih baik saya meracau saja di blog ini. Kali ini yang terpikir di benak saya adalah tentang atheism yang setahu saya definisinya adalah ketidakpercayaan akan adanya Tuhan pencipta semesta alam. Orangnya disebut sebagai atheist.

Ini bukan tulisan yang serius dan tidak ada maksud untuk menghakimi kepercayaan (atau ketidakpercayaan) orang terhadap Tuhan. Saya sendiri percaya adanya Tuhan dan saya punya banyak teman yang atheist. 

Kembali ke pokok tulisan, atheism itu mungkin berasal dari kata theism yang artinya berketuhanan ditambahi awalan a- sehingga artinya menjadi tidak berketuhanan atau tidak percaya keberadaan suatu zat yang menciptakan alam semesta ini. Sama seperti kata asusila = tidak bersusila, amoral = tidak bermoral, anonoh = tidak senonoh. 🙂

Kenapa seseorang bisa menjadi seorang atheist? Penyebabnya mungkin sangat beragam, tapi yang ada di benak saya saat ini adalah:

  • Faktor keluarga dan lingkungan. Ini adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam membentuk keyakinan seseorang. Seorang anak gadis perawan yang tumbuh dalam lingkungan atheist, tentu kemungkinan besar akan menjadi seorang wanita dewasa yang atheist juga. 
  • Faktor kekecewaan. Seseorang yang tadinya sangat agamis bisa menjadi seorang atheist karena kecewa kepada Tuhan. Contoh, si Badu yang super alim ternyata ditolak cintanya oleh gadis pujaan hatinya. Padahal Badu tak pernah absen berdoa memohon kepada Tuhan agar dia bisa menikah dengan si gadis. Badu kecewa setengah mampus dan hilanglah kepercayaan dia terhadap Tuhan.
  • Faktor logika dan sains. Kebanyakan atheist menganggap bahwa agama adalah ciptaan manusia sebelum berbagai kejadian di alam ini bisa diterangkan oleh sains. Kini setelah ilmu pengetahuan semakin maju, makin banyak pula yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Jadi, bagi atheist, konsep ketuhanan sama sekali tak bisa diterima.

Konon kabarnya, jumlah atheist di dunia cenderung mengalami peningkatan. Bahkan, seperti di Australia ini misalnya, makin banyak orang yang menyerukan ketidakperluan agama dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya waktu masa sensus penduduk beberapa waktu lalu, penggiat atheism mengkampanyekan penghapusan field tentang religion pada kartu sensus karena dianggap tidak relevan lagi.

Pada akhirnya, menjadi seorang pemeluk agama maupun atheist adalah pilihan. 

Saya tidak tahu ujung tulisan saya ini harus bagaimana. Jadi lebih baik saya sudahi dulu tulisan ngawur ini.

Wassalam.

3 thoughts on “tentang atheist

  1. Tidak mudah bagi seorang atheist membuka pribadi aslinya, terlebih di Indonesia. Saya tidak terlalu tertarik dengan segala hal berbau rohani. Bagi saya, agama itu hanya politik. Tidak terlalu penting bagi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s