selamat jalan, pak Madjid

Saya pertama kali bertemu beliau, pak Abdul Madjid Baasir, pada pertengahan 2002 saat saya pertama kali menjadi pegawai sebuah perusahaan di Balikpapan. Saya ditempatkan di department yang sama dengan beliau. Kesan pertama saya waktu berkenalan dengan pak Madjid adalah sikapnya yang ngemong dan rendah hati.

Walaupun sudah senior, beliau tak pernah menjaga jarak terhadap siapapun, termasuk kepada saya yang masih bau kencur. Pak Madjid adalah orang yang paling sering memberi saya nasihat dan petuah sepanjang saya berkarir. Nasihat-nasihatnya pun tak sebatas urusan kantor, melainkan juga urusan agama dan pribadi.

Kalau sudah masuk waktu sholat Ashar, beliau sering tiba-tiba masuk ke ruangan saya dan mengingatkan saya untuk sholat. Tak jarang juga pak Madjid mengajak saya mengobrol tentang agama, walaupun seringkali saya hanya menjadi pendengar karena pengetahuan agamanya yang begitu luas dibandingkan saya.

Kebetulan pak Madjid ini latar belakangnya adalah guru bahasa Inggris dan saat itu beliau mengurusi segala macam urusan training bahasa Inggris di kantor kami. Nah, kalau saya harus menulis email ataupun membuat presentasi dalam bahasa Inggris, saya sering mendatangi pak Madjid untuk mengoreksi draft yang sudah saya buat. Biasanya sambil mengoreksi, beliau akan menyisipkan pelajaran bahasa Inggris gratis kepada saya. 🙂

Pak Madjid adalah seorang yang humoris. Tak jarang ia melontarkan joke atau menceritakan pengalaman yang lucu kepada kami rekan-rekan kerjanya di kantor dengan suaranya yang berat dan tawanya yang renyah.

Walaupun sudah berkarir selama puluhan tahun, pak Madjid tetap sederhana dan bersahaja. Mobil pribadinya waktu itu adalah Toyota Kijang keluaran lama. Beliau sangat teliti untuk urusan keuangan dan sering menasihati saya agar cermat dalam mengelola keuangan. Pak Madjid juga sering kali mengingatkan saya agar menyiapkan uang untuk berhaji sedini mungkin.

Dari sekian banyak nasihatnya kepada saya, salah satu yang paling saya ingat adalah ketika beliau mendatangi saya dan berkata:

“Fisto, kamu kalau jalan itu jangan seperti orang baru lulus kuliah. Memang kamu baru lulus kuliah, tapi coba kalau jalan yang tegak, dada dibusungkan. Supaya kamu lebih terlihat pe-de”

Terdengar sepele ya, tapi seperti itulah beliau itu. Orangnya apa adanya, ngemong dan nothing to lose.

Hari Rabu malam, tanggal 25 Januari 2012, selepas sholat Isya’, pak Madjid terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Beliau wafat di Purwokerto, kampung halaman di mana beliau menghabiskan sisa hidupnya selepas pensiun tahun 2004.

Selamat jalan, pak Abdul Madjid Baasir. Semoga Allah menerima semua kebaikan-kebaikan Bapak dan menempatkan di tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s