tentang pencitraan

Wamen Hukum dan HAM, Denny Indrayana, yang sedang aktif memberantas jaringan narkoba di lapas-lapas baru saja terjerat kasus pemukulan terhadap seorang sipir di Pekanbaru. Tentu saja dia membantah tuduhan tersebut. Saya pun tak percaya Denny akan berbuat melampaui wewenangnya tersebut. Tapi banyak juga masyarakat yang percaya kalau dia melakukan penamparan itu. Bahkan mencibir kalau Denny hanya cari muka dan cari popularitas. Bahasa kerennya pencitraan.

Menteri BUMN Dahlan Iskan dari dulu orangnya memang kenceng. Maklum, sebagai (mantan) pengusaha besar dia terbiasa bekerja serba cepat dan langsung ke sasaran. Sangat berbeda dengan ritme jajaran birokrat kita selama ini yang cenderung lambat seperti siput sawah. Kejadian di pintu tol beberapa waktu yang lalu saya anggap lumrah saja mengingat karakter Dahlan Iskan memang seperti itu. Tapi bagi sebagian orang, kejadian tersebut dan sepak terjang pak DI  yang lain dianggap sebagai bagian dari pencitraan.

Walikota Solo Joko Widodo yang sekarang sedang aktif berkampanye sebagai calon Gubernur DKI Jakarta juga tak luput dari anggapan serupa. Segala gebrakannya selama menjadi Walikota Solo, termasuk urusan mobnas Esemka beberapa bulan silam, banyak dilihat sebagai bagian dari pencitraan.

Di negeri ini, kita butuh lebih banyak lagi orang-orang yang berani membuat gebrakan untuk kemajuan bangsa. Kalau setiap orang yang seperti itu dianggap sedang melakukan pencitraan, bagaimana kita mau maju? Mental kambing!

Seharusnya kita justru harus terpecut, kalau mereka bisa kenapa kita tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s