ujian di bulan suci

Pada bulan Ramadhan kali ini, selain mendapatkan banyak pencerahan spiritual, saya juga mendapatkan ujian yang cukup berat, yaitu kedua anak saya jatuh sakit hingga perlu dirawat inap. Bahkan anak lelaki saya, Bima, sampai dua kali rawat inap gara-gara penyakit diare.

Sebenarnya Luna dan Bima mulai mengalami gangguan pencernaan sejak awal Ramadhan. BAB mereka tidak padat seperti biasanya. Tapi karena saya dan istri masih berharap bahwa itu hanya gangguan sesaat, kami tidak langsung membawa mereka ke dokter. Istri saya masih berusaha mengatasi diare tersebut dengan asupan makanan yang lebih daripada biasanya. Maksudnya untuk menjaga kondisi sekaligus mengganti cairan yang keluar dari tubuh mereka.

Hingga hari berganti hari, diare mereka tak kunjung sembuh, bahkan makin sering. Maka, akhirnya kami bawa mereka ke dokter spesialis anak. Sepulang dari sana, ada beberapa obat yang harus diminum.

Selang beberapa hari, Luna menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Namun Bima masih terus diare, hingga pada suatu hari atas rekomendasi dokter umum, Bima dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat inap. Kondisi Bima waktu itu memang sudah agak melemah dan sang dokter tak mau mengambil resiko menunggu lebih lama lagi karena bisa menyebabkan dehidrasi.

Di rumah sakit, Bima langsung ditangani oleh dokter spesialis anak yang langsung memberikan beberapa obat lewat selang infus. Alhamdulillah keesokan harinya kondisi Bima membaik dan sudah ceria kembali. Bahkan sore harinya, Bima dinyatakan sudah boleh pulang.

20120824-220852.jpg

Sepulangnya Bima ke rumah, kini giliran Luna yang kembali terserang diare. Tak mau menunggu lama, keesokan harinya kami membawa Luna ke dokter anak. Sang dokter hanya memberikan beberapa obat untuk diminum di rumah. Kami masih berharap Luna tak perlu dirawat inap.

Selang 2 hari kemudian, kondisi Luna tak juga membaik, bahkan sekarang ditambah dengan batuk-batuk. Akhirnya ibu dokter anak merekomendasikan Luna agar segera dirawat inap. Langsung malam itu, kami bawa Luna ke Rumah Sakit Awal Bros (tempat yang sama di mana Bima dirawat inap sebelumnya).

Keesokan harinya, kebetulan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah sudah saatnya pulang mudik ke Jawa. Akibatnya tak ada yang menjaga Bima di rumah karena istri saya harus stand by di rumah sakit menjaga Luna dan saya pun harus ngantor. Terpaksa Bima saya drop di rumah sakit juga setelah mengantar ART di bandara dan kembali ke kantor. Jadi seharian Bima berada di rumah sakit bersama istri saya dan Luna.

Kami tak menyadari bahwa keputusan untuk membiarkan Bima berlama-lama di rumah sakit akan berakibat buruk. Malamnya, sepulangnya Bima dari rumah sakit, dia mengalami serangan muntah-muntah yang cukup hebat. Terhitung 15 kali Bima mengeluarkan isi perutnya hingga tersisa air saja. Jam 3 pagi, saya larikan dia ke UGD dan langsung dirujuk untuk rawat inap.

Kondisi Bima saat itu sudah lemas sekali. Kata dokter jaga saat itu, Bima sudah mengalami dehidrasi ringan. Saya sempat panik dan menyesal kenapa saya terlambat membawa Bima ke rumah sakit. Untungnya, setelah dipasang selang infus dan oksigen, Bima berangsur-angur membaik.

Demi kemudahan, Bima dirawat satu kamar dengan Luna. Tempat tidur mereka bersebelahan. Dokter anak yang merawat mereka pun sama. Menurut dokter, Bima terserang kuman yang menyerang pencernaannya karena terlalu lama terpapar di rumah sakit.

Setelah menginap semalam (dan 2 malam untuk Luna), akhirnya tadi sore mereka berdua sudah diperbolehkan untuk pulang. Alhamdulillah.

Itu artinya kami bisa mudik ke Jakarta seperti rencana semula besok pagi. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s