Kota-kota yang Pernah Saya Tinggali

Dalam rentang waktu 3 dekade lebih, saya sudah tinggal di beberapa kota yang berbeda. Mengapa bisa demikian? Pertama, karena Ayah saya dulu tugasnya selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Kedua, karena saya telah bekerja di beberapa kota yang berbeda pula.

Masing-masing kota itu tentu saja meninggalkan kesan yang beragam. Namun demikian, semuanya tentu memberikan pengaruh terhadap diri dan perilaku saya saat ini. ๐Ÿ™‚

Denpasar

Usia saya masih sekitar 2 tahun saat keluarga saya pindah ke kota ini. Tak terlalu banyak yang saya ingat dari kota ini saat itu, kecuali sekolah (Taman Kanak-kanak) dan halaman rumah yang luas dan agak di bawah jalan besar posisinya. Kadang saya juga masih bisa mengingat bentuk dan denah rumah, tapi tak terlalu detail. Saya ingat ada sebuah mesjid di mana saya sering berjalan kaki ke sana seorang diri untuk sholat tarawi, jaraknya hanya 2 atau 3 rumah saja dari rumah saya.

Kami tinggal di ibukota Bali ini sekitar 4 tahun sebelum pindah ke kota Palu. Di Denpasar ini pula kedua adik saya dilahirkan.

Palu

Ibukota provinsi Sulawesi Tengah ini saya tinggali selama 2 tahun sejak saya mulai masuk SD. Saya masih ingat bagaimana dulu keluarga kami masih mengalami pemadaman listrik yang sangat terjadwal, yaitu 2 hari sekali. Waktu itu belum ada yang namanya mal. Supermarket baru ada satu, letaknya di pusat pertokoan di tengah kota.

Cuaca di kota ini sangat panas karena letaknya di dekat garis khatulistiwa. Saya ingat samar-samar di sekitar kota ini banyak sekali terdapat semacam gurun atau entah apa istilah yang tepat untuk menggambarkan hamparan tanah luas yang kering dan tandus. Apakah kini, setelah lebih dari 20 tahun berlalu, daerah itu sudah berubah? Ada yang bisa mengkonfirmasi? ๐Ÿ™‚

Sampai saat ini, saya belum pernah mengunjungi kota ini lagi sejak meninggalkannya dan pindah ke Takalar, sebuah kota kecil di provinsi Sulawesi Selatan.

Takalar

Kota ini berjarak sekitar 30 kilometer ke arah selatan ibukota provinsi, Makassar (dahulu Ujung Pandang). Waktu saya tinggal di sana, Pattalassang, ibukota Takalar ini masih sepi. Tak ada pusat pertokoan, hanya ada 2 pasar tradisional saja yang lebih banyak menjual bahan-bahan kebutuhan pokok saja. Dahulu, ada sebuah toko kelontong yang sebenarnya tidak terlalu besar, namun untuk ukuran Takalar, toko tersebut adalah yang paling lengkap.

Saya tinggal di kota ini selama 2.5 tahun, dari kelas 3 SD hingga kelas 5. Di sini saya mempunyai banyak teman bermain yang kebanyakan juga teman-teman sekolah. Beberapa teman saya adalah penggembala kerbau, tapi saya tak pernah ikut naik di atas punggung kerbau karena banyak kutunya.

Permainan favorit waktu itu adalah sepakbola, layangan dan gobak sodor (saya lupa apa sebutan buat permainan ini di Takalar). Hampir semuanya permainan fisik, tak ada video game atau sejenisnya. Setiap hari saya ditemani oleh sebuah sepeda BMX yang sudah saya perotoli rem depannya. Dengan sepeda itulah, bersama teman-teman saya menjelajahi sudut-sudut pedesaan, pemukiman dan areal persawahan serta kebun tebu milik PTPN.

Saat saya duduk di kelas 5, Ayah saya dipindahtugaskan ke Bitung.

Bitung

Bagi saya, Bitung adalah sebuah kota yang keren. Bayangkan saja, kota ini menghadap ke sebuah selat yang memisahkan daratan Sulawesi dengan sebuah pulau kecil bernama Pulau Lembeh. Di belakang kota itu, berdiri dengan kokohnya sebuah gunung kecil yang disebut sebagai Gunung Duasaudara.

Kota kecil ini cukup ramai karena perannya sebagai kota pelabuhan dan gerbang samudra ke provinsi Sulawesi Utara. Jaraknya sekitar 1 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi, Manado.

Saya menghabiskan waktu setahun di sini dan bersekolah di sebuah sekolah Katolik swasta, Don Bosco. Sekolah itu benar-benar hanya dibatasi oleh sebuah tembok dengan bagian belakang rumah saya.

Somehow, saya suka atmosfer kota ini. Kalau ada kesempatan sekarang, saya ingin berkunjung kembali ke Bitung. Pasti sudah banyak perubahan, namun gunung Duasaudara dan pulau Lembeh tak akan berubah. ๐Ÿ™‚

Cilacap

Awalnya gara-gara Ayah saya ditugaskan ikut pendidikan selama beberapa bulan di Jakarta, Ibu saya kemudian memboyong saya dan adik-adik ke Cilacap karena alasan kepraktisan saja. Di Cilacap banyak saudara dan ada sekolah yang cukup bagus. Jadi sembari menunggu Ayah saya selesai tugas pendidikannya, kami bertiga (saya dan adik-adik) disekolahkan sementara di Cilacap.

Namun ternyata setelah Ayah saya selesai pendidikan, diputuskan bahwa saya akan tetap meneruskan sekolah di Cilacap dan dititipkan ke salah seorang Pakde yang tinggal di sana. Sedih sekali rasanya karena itu kali pertama saya harus hidup terpisah dengan keluarga.ย Untungnya saya cepat mendapatkan teman sehingga rasa sedih dan rindu bisa sedikit terkubur.

Cilacap adalah sebuah kota pelabuhan di sebelah selatan provinsi Jawa Tengah. Mirip dengan Bitung yang berhadapan dengan pulau Lembeh, Cilacap dilindungi oleh pulau Nusa Kambangan dari hempasan ombak Samudera Hindia. Pertamina punya sebuah kilang yang besar di sini dan memperkerjakan ribuan pegawai yang sebagian besar tinggal di beberapa kompleks perumahan yang cukup luas. Sebagian penduduknya hidup dari perniagaan dan hasil laut. Sebagian lagi bekerja di perusahaan-perusahaan industri yang cukup banyak beroperasi di kota ini.

Saya bersekolah di Cilacap dari mulai kelas 6 SD hingga kelas 2 SMP sebelum akhirnya “ditarik” kembali oleh Ayah Ibu saya dan pindah ke Manado.

Manado

Sebenarnya saya suka kota ini, tapi waktu itu saya tak terlalu betah dengan lingkungan sekolah sehingga saya tak punya banyak teman. Ketidakbetahan saya bukan karena teman-teman sekolah, bukan sama sekali. Melainkan karena secara pribadi saya tak siap untuk pindah dari Cilacap ke sekolah baru di Manado. Bisa dikatakan periode di Manado ini adalah masa-masa sulit saya secara mental.

Di luar hal itu, saya menyukai banyak hal tentang kota ini. Terutama makanan-makanannya, cocok sekali di lidah saya: pedas dan segar. Yang paling melekat di hati tentu saja bubur Manado dan nasi kuning. Kalau saya ke Manado lagi sekarang, ingin rasanya menyambangi tempat langganan saya membeli bubur Manado dan nasi kuning yang sayangnya sudah tak saya ingat lagi. ๐Ÿ˜ฆ

Saya lulus SMP di kota ini dan melanjutkan SMA di Jakarta.

Jakarta

Tak pernah sebelumnya saya membayangkan akan tinggal di Jakarta, sebuah kota metropolitan yang tentunya sangat jauh berbeda dengan kota-kota yang pernah saya tinggali sebelumnya. Keluarga kami tinggal di daerah Rawamangun, Jakarta Timur, dan menempati sebuah rumah kontrakan yang masih baru. Saya bersekolah di sebuah SMA negeri yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah, mudah dicapai dengan menaiki angkutan kota.

Walaupun tinggal di Jakarta, waktu itu saya jarang merasakan kemacetan lalu lintas. Entah mengapa. Mungkin karena saya jarang bepergian ke daerah-daerah yang rawan macet. Rute perjalanan saya sebagian besar memang hanya berkutat di sekitar rumah, sekolah, dan sekitarnya. Ini pula yang menyebabkan saya tak pernah benar-benar hafal dan menguasai daerah-daerah di Jakarta. ๐Ÿ™‚

Kami sekeluarga tinggal di ibukota selama setahun sebelum akhirnya Ayah saya dipindahtugaskan lagi ke Medan dan saya “dilempar” ke Jogja untuk melanjutkan SMA di sana.

Jogja

Untuk pertama kalinya saya harus hidup sebagai anak kos-kosan. Ayah, Ibu dan adik-adik saya saat itu berdomisili di Medan. Saat itu saya baru akan duduk di bangku kelas 2 SMA. Dengan perasaan bercampur aduk antara senang dan sedih (karena harus tinggal jauh dari keluarga), saya membulatkan tekad untuk melanjutkan sekolah di kota gudeg ini. Alasannya waktu itu cuma satu: supaya bisa masuk UGM. ๐Ÿ™‚

Saya berhasil masuk sebuah SMA negeri yang lokasinya di tengah kota dan kebetulan bisa mendapatkan tempat kos yang letaknya tak jauh dari situ juga.

Jogja saat itu tentu berbeda dengan Jogja saat ini yang sangat padat dan ramai. Rasanya waktu itu Jogja masih sangat nyaman untuk ditinggali. Keramaiannya masih keramaian khas kota pelajar. Sepeda motor sudah banyak ditemui di jalan raya, tapi tentu belum sepadat sekarang. Rasanya waktu itu rombongan sepeda onthel masih sering saya temui di pagi hari.

Lulus SMA, saya diterima masuk ke UGM dan terus menetap di Jogja hingga lulus kuliah. Kurang lebih lima bulan setelah lulus, saya bergabung dengan sebuah perusahaan yang beroperasi di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Balikpapan

Bulan Juli 2002, itulah saat pertama saya menjejakkan kaki di bumi Kalimantan, tepatnya di kota Balikpapan. Saya langsung suka kota ini karena bersih dan relatif masih teratur. Karena hampir seluruh penduduknya adalah pendatang, Balikpapan menawarkan atmosfer yang unik dan masyarakat yang sangat terbuka. Perkembangan kotanya pun sangat pesat dan cukup modern.

Sewaktu saya masih kuliah, orang tua saya memutuskan untuk pensiun dan hijrah ke Jogja. Nah, kebetulan sejak dulu itu sudah ada pilihan penerbangan Balikpapan – Jogja yang bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam.ย Saya makin betah tinggal di kota ini karena Jogja serasa dekat saja jaraknya. ๐Ÿ™‚

Saya bertemu dengan mantan pacar saya (baca: istri) di kota ini. Kedua orang tua istri saya berprofesi sebagai dokter di Balikpapan. Maka sekarang jadilah Balikpapan sebagai kota tujuan mudik saya sekeluarga, selain Jogja tentunya.

Pekanbaru (Rumbai)

Dua bulan setelah pernikahan kami, saya dipindahtugaskan ke Rumbai, kota kecamatan yang berjarak sekitar 20 menit dari pusat kota Pekanbaru. Sebagai kota perdagangan, Pekanbaru adalah sebuah kota yang ramai dan sibuk. Di kawasan pusat kota, pembangunan terlihat cukup pesat yang ditandai dengan beberapa bangunan-bangunan besar dan bertingkat. Sayangnya, di banyak bagian kota lainnya, masih terdapat banyak ruas jalan yang rusak dan pemukiman yang kurang tertata.

Anak pertama kami lahir di sebuah rumah sakit di Pekanbaru. Kami melewati kehidupan yang cukup menyenangkan di sini selama kurang lebih dua tahun sebelum saya ditugaskan sementara ke Perth, Australia.

Perth

Anak kedua kami lahir tepat seminggu sebelum saya harus terbang menuju Perth, kota terbesar di kawasan barat Australia. Karena berbagai pertimbangan, istri saya akhirnya melahirkan di Balikpapan. Dan oleh karena itu, saya harus berangkat ke Perth terlebih dahulu dan meninggalkan istri dan kedua anak saya di Balikpapan untuk sementara.

Perth adalah tipikal kota di negara maju. Semua serba teratur, modern dan bersih. Keamanan dan kenyamanan sangat terjaga. Sistem transportasi publiknya juga sangat bagus dan bisa dijangkau dari semua sudut kota.

Yang unik dari Perth adalah walaupun kota ini termasuk kota besar dan salah satu kota utama di Australia, namun aktivitas pertokoan sudah berhenti di atas pukul 5 sore – kecuali pada hari Jumat. Yang masih buka hingga malam hari adalah rumah makan saja. Jadi jangan harap akan menemui keramaian pada malam hari di daerah-daerah pusat pertokoan di Perth. ๐Ÿ™‚

Setelah tinggal di kota ini selama 2 tahun, saya kembali ditugaskan ke Rumbai.

2 thoughts on “Kota-kota yang Pernah Saya Tinggali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s