berjualan kopi aceh di bazaar

Sebenarnya saya sudah tidak ingin terlalu aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan acara musik atau sejenisnya. Tapi permintaan seorang teman untuk membantunya menjadi panitia sebuah acara musik di lingkungan kompleks perumahan kami beberapa waktu yang lalu akhirnya saya sanggupi. Alasannya cuma satu: karena saya ditunjuk jadi seksi bazaar. 🙂

Dengan menjadi koordinator bazaar berarti saya bisa “mengamankan” satu lapak untuk saya pakai sendiri. Hehehe.

Awalnya saya ingin menjual kebab. Namun karena ternyata waktu yang cukup mepet dan saya belum pernah mencoba membuat kebab sebelumnya, belum lagi harus membeli alat pemanggangnya dan sarana pendukung lainnya, akhirnya saya putuskan untuk berjualan kopi Aceh dan berbagai makanan kecil saja pada bazaar kali ini.

Kenapa kopi Aceh? Sebenarnya selain karena (katanya) kopi Aceh punya citra rasa yang khas, saya lebih tertarik pada proses pembuatannya. Kopi aceh dalam bentuk bubuk harus direbus dengan air mendidih, kemudian disaring beberapa kali lalu “ditarik” ke dalam gelas hingga berbuih. 🙂

Demi keaslian kopinya, saya memesan beberapa bungkus kopi Aceh kiloan langsung dari seorang penjual kopi Ulee Kareng di Aceh. Tidak hanya itu, saya pun minta dibelikan panci (atau ceret) masak dan saringannya.

Saya bukan penggemar kopi, jadi cara membuatnya hanya saya tonton dari YouTube. Soal takaran? Wah, itu hanya dikira-kira saja. Beberapa teman saya minta untuk menjadi pencicip (baca: kelinci percobaan) kopi racikan saya. Kata mereka sih rasanya lumayan dan efek kafeinnya cukup nendang. Mungkin itu gara-gara daun *sensor* yang konon dicampurkan dalam bubuk kopi Aceh tersebut. 😀

Di bawah ini foto yang diambil ketika saya (paling kiri) mencoba menyiapkan kopi Aceh di depan panggung acara saat persiapan bersama para panitia. Sedangkan teman-teman saya itu adalah yang menjadi korban eksperimen saya.

Pada saat bazaar yang berlangsung dua malam tersebut, walaupun tak terlalu banyak yang membeli kopi Aceh saya, tapi mungkin ada sekitar 50 pembeli lah. Lumayan.

Soal rasa, saya tak tahu pasti. Yang jelas ada yang komplain kalau racikan saya terlalu encer. Setelah mendengar itu, campurannya langsung saya perkental sedikit. Mudah-mudahan pembeli yang berikutnya bisa menikmatinya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s