review: adonit jot touch

Beberapa hari ini saya telah mencoba sebuah stylus keluaran terbaru dari Adonit, yang mereka labeli sebagai Jot Touch. Stylus ini menggunakan teknologi Bluetooth untuk mendukung kemampuan dalam mendeteksi perbedaan tekanan di atas layar sentuh. Mirip-miriplah seperti kemampuan stylus pada tablet-tablet Wacom maupun pada Galaxy Note.

Secara fisik, bentuknya nyaris serupa dengan generasi pendahulunya terutama Jot Pro. Jot Touch mewarisi body alumunium yang terasa kokoh dan precision disc untuk peningkatan akurasi saat ujung stylus digoreskan pada layar sentuh. Perbedaan yang paling signifikan adalah adanya 2 tombol yang terletak di area pegangan. Kedua tombol tersebut bisa difungsikan untuk berbagai tugas, tergantung aplikasi apa yang digunakan.

Sebenarnya ada satu tombol lagi yang tidak terlihat dan terletak di antara 2 tombol tadi. Fungsinya adalah sebagai tombol power dan untuk pairing Bluetooth dengan tablet atau smartphone. Untuk menghidupkan Jot Touch, tombol tengah ini cukup ditekan selama kurang lebih 3 – 4 detik hingga LED berwarna hijau menyala. Sedangkan untuk pairing Bluetooth, waktu menekannya lebih lama, sekitar 6 – 8 detik hingga lampu LED berkedip-kedip hijau dan merah.

Jot Touch ini perlu diisi ulang dayanya. Setiap paket pembeliannya dilengkapi dengan charger mungil berbentuk mirip USB flash disk dan bisa dicolokkan ke komputer, laptop ataupun adaptor AC. Untuk melakukan pengisian daya, kita tinggal colokkan pangkal Jot Touch ke charger tadi dan klik!, keduanya langsung menempel erat berkat adanya magnet.

Lantas bagaimana performanya saat digunakan untuk menulis maupun menggambar?

Tanpa fitur Bluetooth-nya pun, Jot Touch ini sebenarnya sudah cukup nyaman untuk digunakan. Bahkan termasuk yang paling nyaman di antara stylus-stylus lain yang pernah saya coba.

Saat ini, belum banyak aplikasi yang sudah 100% mendukung fitur pressure sensitivity dan shortcut pada stylus ini. Adonit telah mengeluarkan SDK yang bisa diadaptasi oleh para pengembang ke dalam aplikasi-aplikasi mereka. Namun belum banyak pengembang yang menerapkannya. Alhasil, jumlah aplikasi yang benar-benar mendukung kemampuan Jot Touch ini secara optimal masih sangat terbatas. Daftar lengkapnya bisa diihat di sini.

Saya mencoba Jot Touch pada 2 aplikasi yang cukup sering saya gunakan: NoteShelf dan Sketchbook Pro. Pada NoteShelf, kita bisa menikmati kemampuan stylus ini dalam mendeteksi perbedaan tekanan pada layar sentuh. Selain itu, kita juga bisa mengatur kedua tombol shortcut untuk bisa melakukan perintah-perintah tertentu seperti undo, redo, go to the next page dan sebagainya.

Sedangkan pada Sketchbook Pro, kita hanya bisa menikmati fitur pressure sensitivity saja. Pengembang aplikasi untuk menggambar dan mewarnai ini belum menjadikan Sketchbook Pro kompatibel dengan tombol shortcut yang ada pada Jot Touch. Menurut saya sih akan sangat baik jika tombol-tombol shortcut-nya bisa digunakan untuk undo atau mengubah jenis pensil, pena, ataupun kuas.

Overall, Jot Touch adalah stylus yang cukup nyaman untuk digunakan. Namun karena belum banyak pilihan aplikasi yang mendukung teknologi pressure sensitivity dan ketersediaan 2 tombol yang bisa dipakai untuk berbagai tugas, keberadaan fitur Bluetooth-nya menjadi agak mubazir. Saya pribadi tadinya mengharapkan Jot Touch juga dapat menawarkan fitur wrist protection, sehingga telapak tangan bisa lebih nyaman diletakkan pada layar sentuh saat menulis ataupun menggambar.

Update:

Ini contoh gambar yang saya buat menggunakan Jot Touch dan aplikasi Sketchbook Pro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s