Selamat Jalan, Mama

Bulan September tahun 2012 yang lalu menandai 34 tahun sudah Mama mendampingi Papa mengarungi bahtera rumah tangga, dalam suka maupun duka. Bagi Papa, Mama adalah sosok pendamping hidup yang sempurna. Sifat Mama yang keras, perfeksionis dan lugas sangat pas melengkapi Papa yang lebih cool, bersahaja dan santai.

Bagi anak-anaknya, Mama adalah segalanya. Sebagai ibu rumah tangga, sebagian besar waktu Mama tercurah untuk membesarkan ketiga anaknya hingga mentas. Kalau sudah urusan anak-anak, Mama memang selalu all-out.

Mama adalah seorang perempuan yang kuat. Ketika beliau divonis terserang kanker payudara dan harus berjuang melewati serangkaian pengobatan yang sangat melelahkan dan menyakitkan, Mama tak pernah terlihat menyerah dan takluk pada penyakitnya.

Alhamdulillah, dua tahun setelahnya, Mama bahkan mampu menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Kurang lebih 4 bulan yang lalu, Mama mengeluh sakit pada leher dan bagian belakang kepala. Awalnya kami hanya mengantar Mama untuk berkonsultasi ke dokter syaraf dan menjalani rawat jalan saja. Namun pada suatu hari, Mama menerima serangan vertigo yang hebat hingga harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.

Setelah itu, kondisi fisik Mama memang mulai menurun. Beliau sempat keluar masuk rumah sakit beberapa kali, hingga akhirnya kehilangan selera makan sama sekali dan tergolek lemah di tempat tidur selama 2 bulan.

Selama kurun waktu itu, kami terus berusaha untuk kesembuhan Mama dengan berkonsultasi ke beberapa dokter spesialis, tapi hasilnya tak memuaskan karena penyakit Mama yang sesungguhnya belum ditemukan. Sementara kondisi Mama terus mengalami penurunan dan bahkan Mama sudah tak mampu untuk duduk lagi.

Awal bulan Februari, Mama merasa kesakitan yang amat sangat di bagian pinggang. Kami pun membawa Mama ke rumah sakit agar bisa diobservasi secara menyeluruh dan dirawat inap. Sore itu, kami sangat terkejut bak disambar petir di siang bolong ketika salah seorang dokter menyampaikan hasil foto rontgen yang menunjukkan bahwa tulang-tulang belakang dan paru-paru Mama sudah terserang sel-sel kanker yang cukup ganas.

Seminggu setelah itu, kondisi fisik Mama kian melemah. Untuk bernafas, Mama harus dibantu dengan selang oksigen. Asupan zat makanan dimasukkan lewat selang infus karena Mama tak mau makan lagi.

Melihat keadaan Mama yang tak berdaya seperti itu, hati saya begitu terpukul dan sedih. Tampak sekali penderitaan Mama dalam menghadapi sakitnya tersebut. Tapi saat itu saya masih berpikir positif dan yakin kalau Mama masih mampu melewati ini semua.

Di tengah kondisi Mama yang seperti itu, kami memutuskan untuk mempercepat pernikahan adik bungsu saya yang rencananya baru akan dilangsungkan bulan Maret nanti, agar bisa dilakukan dan disaksikan di hadapan Mama. Melihat adik saya menikah memang salah satu keinginan terakhir Mama dan alhamdulillah hal tersebut bisa dipenuhi. Acara ijab kabul dilakukan di kamar salah satu rumah sakit di Jogja tempat Mama dirawat.

Sehari setelah proses akad nikah tersebut, atas permintaan Mama juga, dokter memperbolehkan Mama untuk dipulangkan dan dirawat di rumah saja. Mama terlihat sangat senang waktu dibawa pulang.

Namun baru semalam dirawat di rumah, kondisi Mama drop. Keesokan harinya, kesadaran Mama naik turun hingga akhirnya tak sadar sama sekali sekitar pukul 11 siang. Papa segera meminta semua anak dan keluarga lain untuk berkumpul di rumah Jogja. Saya yang kebetulan sudah sempat pulang ke Pekanbaru, langsung terbang lagi ke Jogja siang itu juga.

Dalam perjalanan, saya berusaha terus memonitor kondisi Mama yang kian memburuk. Saya terus berharap saya masih bisa menyaksikan saat-saat terakhir Mama.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Segera setelah saya mendarat di Jakarta untuk transit, kabar bahwa Mama sudah tiada saya terima melalui pesan singkat. Mama meninggal pukul 4 sore, pada hari Selasa 19 Februari 2013.

Sesampainya di Jogja, saya pandangi jenazah Mama yang sudah dimandikan dan dikafani. Saya pandangi kedua mata Mama yang takkan pernah terbuka lagi. Saya pandangi raut muka Mama yang begitu tenang dan damai.

Di depan saya, terbaring sesosok perempuan mulia yang paling saya hormati dan sayangi. Kepadanya, saya masih menyimpan banyak keinginan untuk membahagiakan hatinya. Kepada Mama-lah selama ini saya selalu ingin memberitakan kabar baik apapun yang saya terima.

Hari itu, penderitaan Mama atas sakitnya usai sudah. Semoga penyakit Mama menjadi peluruh dosa-dosanya semasa hidup.

Kami semua mengantarkan Mama ke tempat peristirahatan terakhirnya di Purwokerto. Kota ini adalah tempat kelahiran Papa dan Mama.

Selamat jalan, Mama. Istirahat yang tenang ya…kami semua akan selalu mendoakanmu.

Advertisements

5 thoughts on “Selamat Jalan, Mama

  1. innalillahi wa inna ilaihi roji’un, turut berduka cita ya om, semoga amal ibadah beliau diterima Alloh SWT dan semoga beliau diberi tempat terbaik.. aamiin…. yang sabar ya om..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s