Alasan Memilih Calon Presiden

Rasanya semenjak orde baru tumbang, belum pernah bangsa ini merasakan suasana pesta demokrasi semeriah pemilihan presiden 2014 kali ini. Gontok-gontokan antar pendukung para pasangan calon presiden dan wakil presiden mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dalam 2 bulan terakhir ini. Saking serunya, gegap gempitanya pilpres saat ini mampu mengalahkan riuhnya momen piala dunia di Brazil.

Penyebabnya tentu saja karena pilpres kali ini yang hanya mengusung 2 pasang calon saja sehingga dukungan dari masyarakat sangat terpolarisasi dan kita bisa melihat kekuatan kedua kubu cukup berimbang. Hasil survey dari beberapa lembaga survey memperlihatkan adanya trend bahwa pilpres nanti akan menghasilkan selisih suara yang amat tipis di antara kedua calon yang ada, Prabowo & Hatta serta Joko Widodo & Jusuf Kalla.

Linimasa saya di Facebook, Twitter maupun Path serta beberapa grup di BBM maupun Whatsapp pun penuh dengan dukungan untuk kedua pasangan calon. Belum sampai membuat saya eneg sih, tapi kadang kala saya suka geli sendiri saat membaca tautan berita yang menurut saya isinya sangat konyol atau dibuat-buat. Saya heran saja, yang share itu kok ya mau sharing sesuatu yang isinya begitu amat. 🙂

Tentu ada 1001 alasan untuk memilih. Namun di sini, berdasarkan pengamatan saya terhadap linimasa dan teman-teman saya, saya hanya akan menuliskan beberapa contoh alasan saja mereka mengapa memilih salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pilpres 2014 ini.

  1. Memilih karena kesamaan ideologis, kelompok atau keyakinan. Biasanya karena partai atau kelompok yang mereka dukung berada di belakang salah satu pasangan calon yang ada. Atau karena mereka melihat si calon itu sendiri juga memiliki kesamaan dengan mereka.
  2. Memilih karena ketokohan sang calon. Misalnya karena si calon itu orangnya dinilai tegas dan berani, atau merakyat dan bersih.
  3. Memilih salah satu calon karena tidak suka dengan calon yang lain. Alasan ketidaksukaannya pun bisa bermacam-macam misalnya karena rekam jejak yang buruk, pencitraan, dianggap tidak mempunyai tingkat keshalihan yang tinggi, beda keyakinan atau suku, dianggap suka ingkar janji, dan lain sebagainya. Bahkan saya melihat ada beberapa orang yang terkesan membenci salah satu calon tanpa alasan yang cukup jelas.
  4. Memilih salah satu calon karena tidak suka dengan partai pengusung calon yang lain. Beberapa orang sebenarnya cukup bisa menerima salah satu calon, namun karena tidak suka dengan partai pengusung si calon, maka pilihan pun beralih ke calon yang lain.
  5. Memilih karena objektivitas. Beberapa orang melakukan analisa yang komperehensif terhadap data dan fakta masing-masing pasangan calon sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan mereka. Sayangnya, orang yang memilih karena alasan ini jumlahnya sedikit.
  6. Memilih berdasarkan bisikan atau tanda-tanda alam. Iya bung, ini Indonesia!
  7. Memilih apa yang dipilih oleh pasangannya. Yaa semacam “Gue mah ikut apa pilihan suami aja!”
  8. Belum menentukan pilihannya. Mungkin pilihan baru akan dijatuhkan saat berada di bilik suara nanti.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s