Membuat Driving License Qatar (Bagian II)

Ada sedikit kejadian yang menarik saat saya sedang menunggu giliran untuk mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian SIM Qatar. Saat itu, kami semua yang sedang mengantri ke loket pendaftaran sedang duduk manis sambil merem melek menikmati sejuknya AC ruangan itu. Mungkin ada sekitar 8 orang yang sedang dalam antrian, termasuk saya sendiri di urutan ke-6.

Tiba-tiba masuklah ke ruangan itu seorang anak muda berjubah putih, bertubuh agak tambun dan berwajah boros. Dia ditemani oleh seorang bertubuh kurus yang juga berjubah putih. Saya tak bisa menebak apakah orang yang kurus ini adalah teman atau supir si tambun, yang jelas mukanya nelangsa sekali.

Kedua anak muda tadi langsung menghampiri salah satu loket yang ada dan berbicara dengan si petugas dalam bahasa Arab totok. Tak berapa lama, si tambun ini berjalan menghampiri salah seorang dari kami yang kelihatannya seorang bule Eropa. Lalu mereka berbicara dengan setengah bahasa Inggris, setengah lagi bahasa Tarzan.

Keduanya lantas berjalan ke loket tadi dan berbincang bertiga dengan mbak-mbak petugas loket. Tak lama si bule menyerahkan tiket antriannya kepada si tambun yang langsung merogoh saku untuk mengeluarkan sejumlah uang. Awalnya si bule terlihat menolak pemberian uang tersebut, namun karena saya lihat jumlahnya lumayan akhirnya hati si bule luluh. Dia pun menerima uang tersebut sambil cengar-cengir.

Si tambun dan si kurus pun segera dilayani oleh si petugas loket, sedangkan bule tadi kembali ke mesin antrian dan mengambil nomer baru lalu duduk di bangku bagian belakang.

Yah begitulah, ternyata di sini nomer antrian pun bisa dibeli. Saya sendiri berpikir karena waktu itu antrian tidak terlalu panjang, seandainya ada Arab yang menawarkan QR 100 untuk nomer antrian yang sedang saya pegang, mungkin saya terima saja. Lumayan bisa buat makan 1 – 2 hari, kan? Hahaha.

Kembali ke urusan pembuatan SIM. Jadi setelah urusan pendaftaran saya beres, saya diminta untuk mendatangi ruang signal test yang letaknya bersebelahan dengan ruang pendaftaran tadi. Saat saya masuk ke ruang tunggu ujian, sudah ada belasan orang lain yang sedang menunggu giliran untuk dipanggil ke dalam ruang ujian. Mungkin orang-orang ini sudah melakukan pendaftaran sejak kemarin karena saya tak melihat mereka mengantri bersama saya di ruang pendaftaran tadi.

Saya meyerahkan berkas-berkas yang saya bawa dari ruang pendaftaran kepada seorang petugas yang duduk di sebuah meja besar dengan sebuah komputer dan tumpukan kertas-kertas di atasnya. Si petugas lalu mempersilakan saya duduk dan menunggu giliran.

Setiap 10 menit, ada seorang bapak-bapak berjubah putih dan berjenggot panjang keluar dari ruang ujian sambil menyerahkan setumpuk berkas dan mengambil setumpuk yang lain dari petugas tadi. Lalu bapak-bapak ini memanggil sederet nama dengan suara keras tapi tidak terlalu jelas pengucapannya.

Orang-orang yang dipanggil masuk ke ruang ujian disuruh menempati meja yang sudah ditentukan nomernya. Masing-masing meja tadi sudah dilengkapi dengan 1 set komputer untuk menampilkan soal-soal ujian. Kalau semua orang yang dipanggil sudah masuk, ruang ujian pun ditutup.

Nah, berkas-berkas milik orang-orang yang sudah ikut signal test tadi (yang tadi diserahkan oleh bapak-bapak berjubah putih) akan dilihat oleh si petugas yang duduk di meja besar. Lalu si petugas akan menyebutkan nama dan hasil ujiannya: fail ataupass.

“Ahmad! Fail!….Ali! Fail!…Jaa Mesh! Pass!…”

Lucunya, kadang ada yang tidak terima kenapa dirinya dinyatakan fail. Mungkin dia merasa berhak lulus, atau mungkin dia merasa ada yang salah dengan proses penilaiannya, atau mungkin juga dia terinspirasi oleh seorang calon presiden dari sebuah negara di Asia Tenggara. Entahlah.

Kalau sudah ada yang protes seperti ini, si petugas tadi biasanya cukup bilang, “Come again next week! Now please go!”, dengan suara yang cukup keras. Terkadang dibarengi dengan gebrakan meja juga kalau orang yang dinyatakan fail tadi ngotot.

Setelah kurang lebih hampir 45 menit, akhirnya nama saya dipanggil ke dalam ruang ujian. Saya disuruh ke meja nomer 5 dengan komputer yang menggunakan touch screen. Tampilan bahasa di layar saya sudah menggunakan bahasa Inggris. Namun ketika saya mengintip ke orang di sebelah saya, tampilan layarnya terlihat menggunakan tulisan Arab. Mungkin sudah disesuaikan dengan asal-usul masing-masing peserta.

Ketika semua peserta sudah duduk di mejanya masing-masing, bapak-bapak berjubah putih tadi berteriak, “Start now!”

Saya pun mulai mengerjakan soal-soal yang satu per satu terpampang di layar. Setelah kita menentukan jawaban untuk tiap soal dan menekan tombok submit, maka soal berikutnya akan muncul di layar. Materi soal-soalnya diambil dari buku panduan berlalu lintas yang saya pinjam dari seorang teman. Ada 20 soal yang harus dijawab waktu yang ditentukan habis, mungkin sekitar 10 – 15 menit.

Waktu saya selesai menjawab keduapuluh soal tadi, saya pun menghampiri bapak-bapak berjubah putih tadi. Dia lalu memperlihatkan sebuah gambar kap mesin mobil dan menunjuk 3 bagian yang harus saya sebutkan namanya. Setelah itu saya dipersilakan keluar ruangan dan menunggu lagi.

Saat tiba waktunya si petugas mengumumkan hasil ujian, nama saya pun dipanggil dan dinyatakan lulus! Saya diminta kembali ke ruang pendaftaran untuk mendapatkan jadwal road test atau ujian praktek. Ternyata saya mendapat jadwal ujian praktek 3 minggu lagi dari sekarang, di tempat yang sama jam 5.30 pagi.

Bersambung ke bagian III.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s