Berbisnis itu Menggoda Sekali

Selama liburan ini, saya disibukkan dengan urusan penyelesaian pembangunan rumah saya yang tidak kunjung selesai. Ada saja masalah yang membuat waktu serah terima rumah menjadi mundur terus. Mungkin ini ujian juga supaya saya belajar bersabar.

Di tengah urusan rumah tersebut, saya berkesempatan untuk mengobrol dengan 2 orang teman yang melakoni profesi sebagai pengusaha. Yang pertama adalah seorang pengusaha yang masih sangat muda usianya namun sudah memiliki 5 buah pabrik yang tersebar di beberapa kota. Sedangkan yang kedua sebenarnya sedang merintis usahanya sambil meneruskan profesi utamanya sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan.

Teman saya yang pertama, sebut saja namanya Mawar (31), adalah tipe orang yang sangat tekun dan gigih, bahkan sedikit ambisius. Dia punya target-target dalam hidupnya dan bermimpi membangun sebuah kerajaan bisnis yang besar. Sebuah mimpi yang menurut saya bakal dicapainya jika menilik bagaimana dia mengembangkan bisnis pabriknya saat ini.

Si Mawar ini tadinya juga bekerja sebagai karyawan, namun panggilan hatinya adalah memiliki usaha sendiri. Lalu, suatu hari di tahun 2009, dia mulai banting setir dan nekat mendirikan sebuah pabrik es batu di tanah kelahirannya di Sulawesi. Berbekal network yang ia bangun selama menjadi karyawan dan belajar secara autodidak, dia nekat membangun pabrik tersebut walaupun saat itu sudah ada pemain besar di kotanya. Tapi dengan keuletannya, akhirnya bisnis dari pabrik tersebut bisa survive dan bahkan terus berkembang hingga sekarang.

Setelah sukses dengan pabrik pertama, Mawar lalu membangun pabrik kedua pada tahun berikutnya, dan tahun berikutnya, dan tahun berikutnya hingga hari ini dia sudah menikmati hasil dari 5 buah pabrik dan sedang bekerja keras untuk membangun pabrik keenamnya yang kebetulan akan dibangun di Balikpapan. Luar biasa!

Teman saya yang kedua, sebut saja namanya Melati, juga berhasil menginspirasi saya. Dia adalah seorang karyawan dengan jadwal kerja kantoran yang cukup padat. Namun di sela-sela kesibukannya, dia masih menyempatkan diri untuk belajar berbisnis sebagai eksportir. Untuk itu dia rela menghabiskan waktu luangnya untuk pergi mencari komoditi yang bisa diekspor ke mancanegara. Tak cuma di Balikpapan saja, namun hingga ke kota-kota lain.

Saat ini, dia masih bermitra dengan seorang temannya yang sudah memiliki perusahaan eksportir sejak lama. Hal ini dilakukan karena dirinya masih dalam awal dalam bisnis ini, sehingga bisa terhindar permainan cukong-cukong nakal. Rencananya kalau sudah cukup mapan kelak dia akan mendirikan perusahaannya sendiri. Bahkan dia sudah punya cita-cita untuk memiliki pabrik sendiri untuk mengolah komoditas yang dia ekspor agar bisa diubah menjadi produk lain yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Luar biasa!

Dari kedua teman saya ini, saya belajar bahwa sumber rejeki dari Allah itu memang sangat luas. Batasnya adalah langit. Apabila kita mau belajar dan bekerja keras, insya Allah selalu ada jalan untuk menjemput rejeki-rejeki yang sudah disediakan oleh Allah tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s