Menahan Diri

Pilkada DKI kali ini mengingatkan saya kepada ajang pemilihan presiden 2 tahun lampau. Saat itu sepertinya rakyat Indonesia terbelah menjadi dua kubu, pendukung Jokowi atau pendukung Prabowo. Begitu terpolarisasinya rakyat Indonesia, sampai-sampai kalau kita tidak suka dengan Prabowo, maka kita akan dituduh sebagai pendukung Jokowi. Begitu juga sebaliknya.

Linimasa di media sosial dan perbincangan di Whatsapp atau BBM juga hampir selalu berputar di sekitar urusan pilpres. Adu pendapat, lempar isu, berbagi artikel dan berita yang kerap kali tidak valid dan tidak jelas sumbernya, semuanya jamak dilakukan demi mendukung jagoan masing-masing. Yang lebih menyedihkan, perbedaan-perbedaan tersebut sering meruncing dan berakhir dengan perseteruan yang gak penting. Hubungan antar saudara, kerabat dan pertemanan jadi merenggang gara-gara mendukung capres yang berbeda. 

Sekarang suasananya hampir mirip. Tak salah jika mantan presiden SBY bilang ini adalah Pilkada rasa Pilpres. Semua petinggi parpol turun gunung. Banyak rakyat Indonesia, yang bukan warga Jakarta tentunya, ikut merasa berkepentingan terhadap pilkada di ibukota negara ini.

Perang dukungan lebih seru terjadi di dunia maya. Saling serang berbekal foto, artikel, opini, berita, data dan lain sebagainya hampir selalu memenuhi linimasa saya di media sosial. Apalagi sejak kasus Al-Maidah 51 yang menimpa salah satu calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Gaduhnya dunia persilatan di Indonesia semakin menjadi!

Saya sendiri sekarang lebih berusaha menahan diri dan tidak mem-posting apa pun yang berbau pilkada DKI. Bukan karena saya tak punya preferensi terhadap salah satu calon yang ada, melainkan karena saya ingin menjaga tali pertemanan saja. Banyak teman-teman saya di berbagai media sosial yang mendukung calon yang lain, atau lebih tepatnya mendukung calon yang lain asal bukan Ahok. 

Mereka juga rajin menyampaikan pendapat dan berbagi artikel yang isinya tentu mendukung sikap mereka. Seringkali saya gatal ingin mengomentari, karena menurut saya isinya kadang ngawur, tidak valid, atau bisa saya patahkan dengan argumen lain. Tapi demi pertemanan, saya telan sendiri saja. Kadang saya lampiaskan ke istri saya juga waktu kami mengobrol berdua. Alhamdulillah istri saya adalah seorang pendengar yang baik. 

Semoga Pilkada DKI berjalan lancar dan aman. 

Advertisements

One thought on “Menahan Diri

  1. Bener mas seru nih pilkada kali ini, hehee wait and see aja gue mah sama yg satu ini hahaha nice artikel btw mas, salam kenal 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s