Menyelesaikan 10K Pertama di Doha College Run

Alhamdulillah pagi ini saya berhasil menyelesaikan lari 10 kilometer dalam event lari Doha College Run di Aspire Park, Doha. Ini adalah lari 10 kilometer pertama yang pernah saya lakukan. Iya, walaupun saya sudah sering lari sebelumnya, tapi jarak maksimal yang pernah saya lalui adalah 9.5 kilometer saja. 🙂

Event ini terbagi dalam 2 kategori: 5K dan 10K. Untuk yang 10K, peserta sudah harus bersiap di garis start sebelum pukul 7. Pesertanya lumayan banyak, mungkin sekitar 200-an orang. Untuk menyelesaikan 10 kilometer, setiap peserta mesti menyelesaikan 4 putaran (lap) yang masing-masing berjarak 2.5 kilometer.

Pada saat lap pertama, saya merasa pace saya terlalu cepat sehingga nafas terasa terlalu ngos-ngosan. Mungkin karena tanpa sadar saya ingin mengimbangi kecepatan para peserta lain sehingga saya berlari lebih cepat dari yang sudah saya targetkan. Akhirnya setelah memasuki lap kedua, saya mulai mengurangi pace dan berusaha mengatur nafas lagi.

Alhamdulillah setelah itu, hingga menjelang memasuki garis finish, saya bisa menguasai tempo lari dan nafas. Pada satu kilometer terakhir, saya mulai sedikit meningkatkan pace kembali dan akhirnya saya bisa menyentuh garis finish dengan catatan waktu 1 jam 4 menit.

15036227_10154712502713377_7118036799555927150_n

Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Kalau ada kegiatan serupa, saya pasti akan ikut lagi. Mumpung cuaca di Doha sedang enak-enaknya. 🙂

Advertisements

Lulus Sertifikasi Menyelam Open Water

Pertama, saya mau mengakui bahwa saya tidak bisa berenang. Ya kalau sekedar mengapung dan berenang ala kadarnya sambil main air saya masih bisa. Tapi kalau saya disuruh berenang bolak-balik dengan gaya yang proper, dijamin saya pasti gagal.

Lalu kenapa saya nekad ikut kursus diving? Alasan utamanya ya karena saya memang ingin bisa menyelam dan bisa berlibur dan menikmati tempat-tempat penyelaman terkenal yang banyak terdapat di Indonesia. Waktu instruktur selam saya ditanya, apakah saya harus bisa berenang. Beliau menjawab, tidak harus. Ya sudah, saya lantas mendaftarkan diri untuk mengambil sertifikasi selam yang nama resminya adalah Open Water Diving Course.

Kursus ini adalah kursus dasar menyelam dengan alat bantu pernafasan atau SCUBA. Setelah lulus dari kursus ini, maka peserta kursus akan mendapatkan surat ijin atau license untuk menyelam hingga kedalaman 18 meter di bawah permukaan laut.

Kursusnya sendiri terbagi atas 3 bagian: teori, praktek di kolam dan praktek di laut (open water). Untuk kelas praktek di laut lepas, ada 4 kali dive yang harus dilalui. Dalam setiap dive tersebut, ada beberapa set tindakan yang harus dikerjakan oleh setiap peserta, misalnya bagaimana jika dalam keadaan darurat kita harus kembali ke permukaan air dengan selamat, atau bagaimana jika alat bantu pernafasan mengalami masalah dan kita harus berkomunikasi dengan rekan selam (buddy) untuk menggunakan alat pernafasannya. Peserta dinyatakan lulus oleh instruktur selam jika sukses melewati semua dive tersebut dan berhak mendapatkan license Open Water Diving.

 

Bagi saya pribadi, tentu ini merupakan pencapaian yang lumayan membanggakan mengingat bagaimana saya harus melawan rasa takut karena harus berada di dalam air dalam waktu yang cukup lama (karena saya tak biasa dan tak mahir berenang) dalam kondisi di mana saya harus bernafas melalui mulut. 

Menahan Diri

Pilkada DKI kali ini mengingatkan saya kepada ajang pemilihan presiden 2 tahun lampau. Saat itu sepertinya rakyat Indonesia terbelah menjadi dua kubu, pendukung Jokowi atau pendukung Prabowo. Begitu terpolarisasinya rakyat Indonesia, sampai-sampai kalau kita tidak suka dengan Prabowo, maka kita akan dituduh sebagai pendukung Jokowi. Begitu juga sebaliknya.

Linimasa di media sosial dan perbincangan di Whatsapp atau BBM juga hampir selalu berputar di sekitar urusan pilpres. Adu pendapat, lempar isu, berbagi artikel dan berita yang kerap kali tidak valid dan tidak jelas sumbernya, semuanya jamak dilakukan demi mendukung jagoan masing-masing. Yang lebih menyedihkan, perbedaan-perbedaan tersebut sering meruncing dan berakhir dengan perseteruan yang gak penting. Hubungan antar saudara, kerabat dan pertemanan jadi merenggang gara-gara mendukung capres yang berbeda. 

Sekarang suasananya hampir mirip. Tak salah jika mantan presiden SBY bilang ini adalah Pilkada rasa Pilpres. Semua petinggi parpol turun gunung. Banyak rakyat Indonesia, yang bukan warga Jakarta tentunya, ikut merasa berkepentingan terhadap pilkada di ibukota negara ini.

Perang dukungan lebih seru terjadi di dunia maya. Saling serang berbekal foto, artikel, opini, berita, data dan lain sebagainya hampir selalu memenuhi linimasa saya di media sosial. Apalagi sejak kasus Al-Maidah 51 yang menimpa salah satu calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Gaduhnya dunia persilatan di Indonesia semakin menjadi!

Saya sendiri sekarang lebih berusaha menahan diri dan tidak mem-posting apa pun yang berbau pilkada DKI. Bukan karena saya tak punya preferensi terhadap salah satu calon yang ada, melainkan karena saya ingin menjaga tali pertemanan saja. Banyak teman-teman saya di berbagai media sosial yang mendukung calon yang lain, atau lebih tepatnya mendukung calon yang lain asal bukan Ahok. 

Mereka juga rajin menyampaikan pendapat dan berbagi artikel yang isinya tentu mendukung sikap mereka. Seringkali saya gatal ingin mengomentari, karena menurut saya isinya kadang ngawur, tidak valid, atau bisa saya patahkan dengan argumen lain. Tapi demi pertemanan, saya telan sendiri saja. Kadang saya lampiaskan ke istri saya juga waktu kami mengobrol berdua. Alhamdulillah istri saya adalah seorang pendengar yang baik. 

Semoga Pilkada DKI berjalan lancar dan aman. 

Hari Pertama Sekolah

Dikabarkan pagi ini sekitar 300 ribu pelajar mulai masuk sekolah lagi. Lalu lintas sudah pasti lebih padat dibandingkan beberapa minggu belakangan ini. Untungnya tadi pagi saya tidak terlambat berangkat ke kantor sehingga tidak terjebak kemacetan di jalan raya. 

Luna dan Bima sudah mulai belajar di sekolah barunya, GEMS Wellington. Istri saya mengabari bahwa si Luna terlihat begitu santai dan tenang mengawali hari pertamanya di sekolah. Kebetulan ada 2 temannya yang dulu sama-sama bersekolah di GEMS American Academy, kini juga berada di kelas yang sama.

Kalau Bima masih belum nyaman dengan lingkungan barunya. Itu sebabnya dia sempat menangis tadi pagi saat diantar ke kelas. Tapi biasanya kalau dia sudah menemukan kenyamanan, dia akan baik-baik saja. Mudah-mudahan dia bisa cepat beradaptasi. 

Liburan Sekolah Telah Usai

Besok anak-anak sudah akan sekolah kembali setelah hampir 3 bulan menikmati liburan. Hampir 3 bulan!

Mulai tahun ajaran yang akan datang, Luna dan Bima akan bersekolah di sekolah yang baru, GEMS Wellington, sebuah sekolah internasional dengan kurikulum British. Lokasinya hanya bersebelahan dengan sekolah mereka yang lama, GEMS American Academy.

Ada beberapa alasan mengapa mereka pindah ke GEMS Wellington. Pertama, istri saya lebih sreg dengan kurikulum British ketimbang kurikulum American. Bukan berarti kurikulum Amerika tidak bagus, tapi memang metode pengajarannya sangat bergantung kepada individu gurunya. Kalau kebetulan kita dapat guru yang bagus dan kreatif, maka anak kita akan mendapatkan suasana belajar yang baik pula. Begitu juga sebaliknya.

Beruntung selama di GEMS American dua tahun belakangan ini, Luna dan Bima mendapatkan guru-guru yang sangat kompeten. Hasilnya, potensi mereka juga tergali dengan maksimal.

Nah, setelah kenaikan kelas kemarin, karena kita belum tahu mereka akan mendapatkan guru yang mana dan bertepatan dengan pergantian tahun ajaran juga, maka kami putuskan untuk memindahkan mereka ke GEMS Wellington.

Jadi, mulai besok Luna dan Bima akan memulai tahun ajaran yang baru di sekolah yang baru!

Berkunjung ke Museum Sheikh Faisal bin Qassim Al-Thani

Kemarin kami sekeluarga berkunjung ke museum Sheikh Faisal bin Qassim Al-Thani yang berlokasi sekitar 30 menit dari Doha. Ini adalah salah satu dari beberapa museum yang ada di Qatar yang bisa dikunjungi oleh masyarakat umum. Uang masuknya QR 30 per orang dewasa, QR 15 untuk anak-anak berusia hingga 15 tahun, dan bebas biaya masuk untuk anak-anak di bawah usia 8 tahun.

Sheikh Faisal adalah seorang pengusaha sekaligus kolektor benda-benda seni dan bersejarah. Museum ini menampilkan berbagai macam koleksi pribadinya yang beliau kumpulkan dari berbagai negara selama lebih dari 55 tahun, termasuk di dalamnya adalah artefak, lukisan, kendaraan, mata uang, karpet/permadani, senjata, kapal, dan masih banyak lagi yang lain. 

Secara khusus, Sheikh Faisal memang memiliki ketertarikan dan misi khusus untuk melestarikan peninggalan budaya Islam dan Qatar. Ini bisa terlihat dari banyaknya benda-benda bersejarah yang bisa membawa para pengunjung museum ke masa lalu. 

Ukuran museumnya cukup luas, sehingga idealnya memang paling tidak dibutuhkan waktu 2 jam untuk berkeliling museum dan menikmati koleksi-koleksi yang ada. Sayangnya, pihak museum tak menyediakan seorang guide untuk memandu pengunjung. Informasi yang disediakan pun tak banyak dan kalaupun ada, kebanyakan ditulis dalam tulisan Arab. Akibatnya kita lebih sering berjalan sambil lalu saja, tanpa mempelajari lebih dalam lagi cerita di balik setiap koleksi tersebut. 

Anak-anak juga terlihat cepat bosan sehingga belum sejam kita pun memutuskan untuk pergi ke kafe museum. Beberapa teman yang juga datang bersama keluarga akhirnya juga datang ke kafe dan mengobrol di sana untuk beberapa lama. 


Overall, sebenarnya museum ini sangat cukup menarik untuk dikunjungi. Koleksinya sangat banyak dan luar biasa nilai sejarahnya. Agak susah dibayangkan kalau semua ini adalah koleksi pribadi seseorang.