Inilah 5 Perbedaan antara Breaking Bad dan Narcos

Bagi yang belum menonton, spoiler alert ya! 🙂

Saya baru saja selesai menonton 2 season Narcos, serial besutan Netflix yang dibuat berdasarkan kisah nyata seorang bandar narkoba kelas kakap dari Kolombia, Pablo Escobar. Ceritanya mengingatkan saya kepada sebuah serial lain yang juga bertemakan obat terlarang, yaitu Breaking Bad. 

Dalam beberapa hal, kedua serial ini memang agak mirip: banyak adegan kekerasan dan pertumpahan darah, perseteruan antar kelompok, perburuan oleh pihak berwajib, faktor keluarga yang menonjol, dan beberapa hal lainnya. Mungkin kesamaan-kesamaan itulah yang membuat saya suka dengan serial Narcos, sebagaimana saya menikmati Breaking Bad. 

Selain kemiripan, kedua serial tersebut juga memiliki beberapa perbedaan. Berikut 5 di antaranya:

  1. Fiction vs true story. Jika Breaking Bad adalah kisah rekaan alias fiksi, Narcos dibuat berdasarkan kisah nyata di Kolombia yang pada saat itu (sekitar tahun 80-an hingga pertengahan 90-an) memang dikuasai oleh kartel-kartel narkoba seperti Pablo Escobar. Kedua season pertama Narcos memang berpusat pada kehidupan Pablo Escobar hingga akhirnya dirinya tewas diterjang timah panas, namun kabarnya untuk season berikutnya, isi cerita akan berfokus kepada kartel lain yang masih berkuasa. 
  2. Meth vs cocaine. Kalau Walter White (Breaking Bad) meracik dan mendapatkan uang dari Meth (methamphetamine), maka Pablo Escobar mendapatkan banyak sekali uang dari hasil penyelundupan Cocaine dari Kolombia ke Amerika Serikat.
  3. New Mexico vs Colombia. Serial Breaking Bad mengambil setting di kota Albuquerque, negara bagian New Mexico, Amerika Serikat. Sedangkan Narcos berlatar belakang di negara Kolombia yang terletak di Amerika Selatan. Setidaknya ada 3 kota di Kolombia yang dipakai sebagai latar belakang cerita: Bogota, Medellin dan Cali.
  4. Teacher vs criminal. Dalam serial Breaking Bad, tokoh utamanya, Walter White, awalnya ada seorang guru kimia di sebuah SMA yang terdiagnosa kanker paru-paru stadium III. Dia lantas membuat dan menjual meth dengan tujuan agar bisa mengumpulkan dan meninggalkan cukup uang untuk keluarganya apabila dia mati. Dari sinilah baru kemudian Walter White terjerumus dalam kriminalitas. Lain halnya dengan Pablo Escobar dan kartel-kartel narkoba di Kolombia lainnya yang kebanyaknya memang aslinya adalah penjahat atau kriminal sebelum mereka terjun ke bisnis obat terlarang. 
  5. AMC vs Netflix. Breaking Bad adalah serial yang pertama kali disiarkan tahun 2008 oleh AMC, sebuah stasiun televisi kabel dan satelit yang khusus menyiarkan film. Sedangkan Narcos disiarkan secara eksklusif oleh Netflix sejak Agustus 2015. Saat ini kita juga bisa menonton seluruh episode Breaking Bad di Netflix.

Hingga tulisan ini dibuat, Narcos rencananya akan dirilis untuk season 3 dan 4 oleh Netflix. Menarik juga dinantikan bagaimana jalan ceritanya nanti mengingat tokoh Pablo Escobar tidak akan muncul lagi di season yang akan datang. Apalagi aktor yang memerankan Escobar, Wagner Moura, bermain sangat bagus dan menjadikan karakter Pablo Escobar begitu kuat dalam 2 season pertama Narcos. 

Advertisements

Standar Ganda Anak-anak dalam Berbahasa Inggris

Setelah 2 tahun tinggal bersekolah di sekolah internasional, bahasa Inggris kini semacam menjadi bahasa kedua (atau malah yang pertama ya?) bagi Luna dan Bima. Yang jelas kalau mereka berdua saling berkomunikasi, bahasa yang digunakan hampir 100% adalah bahasa Inggris. Sisanya masih menggunakan bahasa Indonesia.

Kalau mereka berkomunikasi dengan Bunda mereka, mungkin sekitar 70 – 80% menggunakan bahasa Inggris, sisanya baru bahasa Indonesia. Istri saya memang kadang sengaja meresponnya dalam bahasa Indonesia.

Nah, kalau dengan Ayah mereka (baca: iya, saya maksudnya), hampir dapat dipastikan mereka akan menggunakan bahasa Indonesia. Jarang sekali mereka berbicara kepada saya dalam bahasa Inggris. Kalau ditanya alasannya, si Bima sering menjawab: “Soalnya Ayah gak bisa bahasa Inggris!” 🙂

Padahal saya sudah sekali-sekali berusaha mengajak mereka ngobrol dalam bahasa Inggris, tapi responnya selalu dalam bahasa Indonesia.

Lucunya lagi, kalau misalnya mereka sedang berbicara dalam bahasa Inggris dengan Bundanya, lalu pembicaraan harus beralih ke saya, secara otomatis mereka akan switch ke dalam bahasa Indonesia. Hahaha.

Saya sampai merasa perlu bikin komik strip-nya. 🙂

img_0251

Keluarga Nomaden

Tak terasa sudah 2 tahun lebih sebulan kami sekeluarga bermukim di Doha, Qatar. Buat saya dan istri, ini berarti pecah satu telur lagi karena selama hampir 9 tahun usia pernikahan kami, baru kali ini kami bermukim di suatu tempat lebih dari 2 tahun. Biasanya kami selalu hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu rumah ke rumah yang lain.

Kami sudah sempat tinggal di 4 kota yang berbeda: Rumbai (Pekanbaru), Balikpapan, Perth dan Doha. Terhitung pula sudah 9 kali kami pindah rumah. Iya berarti selama usia pernikahan kami yang 9 tahun ini, rata-rata kami pindah rumah setahun sekali. 

Terdengar merepotkan dan melelahkan? Iya, memang. Pindahan rumah selalu merepotkan dan melelahkan. Tapi karena ini selalu kami anggap sebagai bagian dari petualangan hidup keluarga kami, semuanya kami bawa enjoy saja. Malah momen pindahan rumah tersebut selalu kami pakai untuk memilah-milah barang-barang rumah tangga yang sudah menumpuk. Biasanya banyak barang yang bisa kita sumbangkan atau terpaksa berakhir di tempat sampah. Dengan cara seperti ini, setidaknya kami sudah berusaha agar barang-barang kami tidak terus menumpuk karena makin banyak barang berarti akan makin repot kalau harus pindahan lagi. 

Saya dan istri sih berharap kita bakal bisa settle di satu tempat suatu saat nanti, namun terus terang sampai saat ini belum ada rencana yang kongkrit dalam waktu dekat. Insha Allah mungkin dalam 2 – 3 tahun ke depan kami bisa mewujudkan cita-cita tersebut. 

 

Doha yang Panas dan Lembab

Cuaca di Doha sekarang masih panas. Memang biasanya baru pada bulan Oktober suhu udara akan mulai menurun. Tapi yang bikin gerah sebenarnya tak hanya panas, tapi juga kelembaban udara yang tinggi.

Sekarang ini, literally kalau saya keluar sebentar dari rumah, terutama pada siang hari, badan saya bisa basah kuyup dengan keringat hanya dalam waktu satu menit. Benar-benar luar biasa lah pokoknya. Maka dari itu sekarang saya selalu sedia botol air ke mana-mana, supaya tidak dehidrasi.

Tak terbayang apa yang dirasakan oleh orang-orang yang harus bekerja outdoor seperti para pekerja konstruksi, penjaga pom bensin dan sebagainya. Saya bersyukur masih bisa bekerja di dalam ruangan.

Ini komik-komikan yang saya buat tentang cuaca yang panas dan lembab di sini.

img_0256

AirPods

Apple telah resmi mengumumkan produk-produk terbarunya: iPhone 7 dan iPhone 7 Plus, Apple Watch series 2 dan AirPods. Kebanyakan orang mungkin akan lebih membicarakan tentang iPhone 7 dan Apple Watch, namun saya kok malah lebih tertarik kepada Airpods.

Banyak yang menganggap earphone nirkabel ini aneh dan akan gampang hilang. Tak sedikit juga yang mengolok-olok desainnya yang memang tidak biasa. Tapi bagi saya, desainnya seksi dan sangat menarik. Kalau ada rejeki, saya ingin sekali membelinya. 

Entah kapan produk ini akan dijual di Qatar. Mungkin saya harus menunggu paling cepat sebulan lagi.

Upgrade ke Business Class

Ada satu hal yang lupa saya tulis kemarin. Saya di-upgrade ke kelas Business pada penerbangan Jakarta – Doha 2 hari yang lalu. Konon karena pesawatnya penuh. Tentu saja saya tak bisa menolak. Hehehe.

Saya tak paham apa alasan mereka memilih saya untuk di-upgrade ke Business, tapi saat check-in saya sempat ditanya oleh petugas di counter check-in Qatar Airways apakah saya memakai sepatu. Saya jawab iya, lalu si petugas mengatakan kalau saya akan di-upgrade ke kelas Business. Alasan yang kedua mungkin karena saya terbang sendiri. Agak susah membayangkan kalau mereka akan mengupgrade satu keluarga ke kelas Business

Sampai di atas pesawat dan diantar ke seat, saya sempat agak ndeso sedikit. Ya maklum, saya belum pernah naik kelas Business Qatar Airways yang konon salah satu yang terbaik di dunia. Ruang untuk satu penumpang lega. Kursinya bisa direbahkan hingga ke posisi tidur. Layar TV-nya besar. Ada tombol-tombol yang terletak di samping kursi untuk bermacam-macam fungsi, termasuk untuk mengatur tampilan layar dan mengatur posisi kursi.

Sejak mulai masuk, para pramugari (dan pramugara) tak berhenti melayani dan menawari snack dan minuman. Ramah-ramah dan helpful. Menu makanannya juga lebih beragam daripada kelas Ekonomi. 

Kursinya nyaman sekali. Begitu saya duduk, rasa kantuk langsung datang menyergap. Jadwal take-off penerbangan ini adalah pukul 00.20 WIB, benar-benar tengah malam. Jadi dilema buat saya, mau tidur saja di atas kursi yang super nyaman ini, atau menikmati fasilitas dan makanan kelas Business ini. 

Perjalanan ke Doha menempuh waktu 8 jam. Jadi saya pikir saya tidur dulu saja barang 3 – 4 jam, sisanya nanti saya akan habiskan untuk makan dan menikmati kenyamanan di kelas ini. 

Saya terbangun ketika penerbangan tersisa 2 jam dari Doha. Makanan ronde kedua sedang dibagikan. Wah, sedikit agak kebanyakan nih tidurnya, pikir saya. Maka, saya pun menyantap makanan sambil mengutak-atik layar monitor di depan saya mencari film yang pas buat ditonton. 

Belum juga film yang saya tonton habis, sang pilot mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Yah, berakhir pulalah waktu saya menikmati semua kenyamanan ini.

Saya sempat membuat sketsa yang menggambarkan kelas Business Qatar Airways ini.