Berlibur ke Eropa (2017) – Bagian II

Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya (bagian I).

Hari Keenam: Mengunjungi Disneyland

Akhirnya kami sampai juga di Disneyland Paris. Kalau dari apartemen tempat kami menginap, jaraknya sekitar satu jam menggunakan train. Di sana ada dua theme park: Disneyland Parks dan Walt Disney Studio. Untuk hari ini kami memilih masuk ke Disneyland Parks.

Sebelum masuk ke Disneyland Parks, kami mesti menukarkan tiket yang kami beli sebelumnya secara online dengan semacam gelang tanda masuk ke area Disneyland Parks tersebut.

Saat kami sampai di sana sekitar pukul 10 pagi, tempat itu sudah penuh dengan manusia. Pasti karena saat ini adalah musim liburan. Begitu banyaknya pengunjung hingga untuk mengantre ke satu atraksi atau ride, kami harus berdiri selama 1 jam!

Saat itu kami juga tidak tahu kalau sebenarnya kami bisa menggunakan fast lane untuk mempersingkat waktu antrean. Akibatnya dalam sehari ini, kami hanya menikmati segelintir atraksi saja. Kurang puas.

Walaupun begitu kami tetap menikmati waktu kami di sana hingga pukul 7:30 malam sebelum kami kembali ke Paris. Hari yang sangat melelahkan.

Hari Ketujuh: Berjalan-jalan di Kota Paris

Hari ini kami habiskan untuk berjalan-jalan saja di kota Paris. Kami mengunjungi Museum d’Orsay, kemudian berjalan kaki ke sebuah bianglala di tengah kota Paris. Lalu kami tentu saja mampir ke Eiffel Tower.

Setelah makan siang di sebuah rumah makan Jepang, kami mengunjungi sebuah museum yang lain, Louvre Museum.

Hari Kedelapan: Kembali ke Disneyland

Karena kami masih punya jatah tiket untuk ke Disneyland, maka hari ini kami habiskan untuk mengunjungi theme park yang kedua, Walt Disney Studio. Ketika sampai di sini, ada sedikit masalah yang harus kami hadapi: tiket saya dan Bima tertinggal di apartemen. Akibatnya saya harus mengurus masalah ini dengan petugas kasir selama 1 jam.

Setelah akhirnya kami bisa masuk ke Walt Disney Studio, kami tak menyia-nyiakan waktu lagi. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami memaksimalkan penggunaan fast lane, sehingga hari ini kami menikmati lebih banyak ride dibandingkan dua hari yang lalu. Anak saya, Luna, berhasil menaiki 7 rides hari ini!

Hari yang menyenangkan!

Hari Kesembilan: Meninggalkan Paris, Kembali ke Frankfurt

Pagi ini saya sempat lari pagi di sekitar apartemen. Udaranya cukup dingin namun menyegarkan. Saya sempat agak kehilangan arah ketika hendak kembali ke apartemen karena banyak sekali blok atau jalan yang mirip, namun akhirnya bisa kembali dengan selamat. 😀

Kami kembali ke Frankfurt, Jerman, menggunakan train. Perjalanan Paris – Frankfurt ditempuh dalam waktu 3 jam. Keretanya cukup nyaman sehingga perjalanan sejauh itu tidak terlalu terasa lama. Apalagi kami semua sepertinya tertidur di kereta karena kelelahan.

Sesampai di train station di tengah kota Frankfurt, kami cukup berjalan kaki menuju hotel tempat kami menginap. Kami memang sengaja memilih hotel yang lokasinya tak terlalu jauh dari stasiun ini supaya tidak repot lagi mencari taksi.

Malamnya, kami hanya keluar sebentar untuk mencari makan malam di sekitar hotel sebelum kembali untuk beristirahat.

Hari Kesepuluh: Kembali ke Doha

Setelah sarapan di hotel, kami bergegas menuju ke Frankfurt Airport menggunakan train. Alhamdulillah sesampai di airport, semua urusan tiket dan imigrasi lancar. Kami pun menaiki pesawat yang membawa kami pulang kembali ke Doha.

Selesai sudah liburan selama 10 hari di Eropa. Sangat mengesankan.

Apabila ada kesempatan lagi, tentu kami akan mencoba mengunjungi kota dan negara lain yang belum sempat kami kunjungi.

Berlibur ke Eropa (2017) – Bagian I

Kami baru saja menyelesaikan rangkaian perjalanan ke beberapa negara di Eropa selama 10 hari. Ini adalah pengalaman pertama kali kami melancong ke benua biru.

Dalam perjalanan kali ini, kami menyewa sebuah mobil yang membawa kami melintasi beberapa kota dan negara. Jadi, ini juga pengalaman pertama kali saya menyetir mobil di Eropa, AKAN (antar kota antar negara). Hehe.

Seru dan menyenangkan.

Hari Pertama: Mendarat di Frankfurt, Meluncur ke Hanau

Kami mendarat di bandara Frankfurt sekitar jam 2 siang. Saya langsung mengurus penyewaan mobil yang akan kami gunakan selama liburan ini. Setelah semua beres, kami langsung meluncur ke Hanau, sebuah daerah di luar kota Frankfurt. Kita menginap di sebuah hotel di sebuah desa (atau kota kecil?) di Hanau.

Sesampai di hotel dan setelah beristirahat sejenak, kita berjalan kaki menikmati sore dengan menyusuri jalan-jalan kecil di sekitar hotel. Setelah itu kita makan malam di sebuah rumah makan di dekat hotel.

Kami kembali ke hotel untuk beristirahat, karena esok harinya kami akan melanjutkan perjalanan ke kota lain.

Hari Kedua: Melanjutkan Perjalanan ke Cologne

Saya menyempatkan diri untuk lari pagi sembari menikmati suasana di sekitar hotel di mana terdapat pemukiman penduduk dan ladang-ladang hijau di antaranya. Begitu sunyi dan damai.

Usai sarapan di hotel, kami segera melanjutkan perjalanan ke kota Cologne (Köln) yang berjarak sekitar 2 jam dari tempat kami menginap di Hanau. Sesampai di kota tersebut, kami menyempatkan untuk makan siang di sebuah rumah makan Turki sebelum mengunjungi Kebun Binatang (Köln Zoo). 

Puas mengitari kebun binatang, kami pergi ke Fragrance Museum, di mana kami mengikuti semacam tur yang menjelaskan tentang sejarah Eau de Cologne yang ternyata berasal dari kota ini. Selama tur tersebut, kami diberi penjelasan mengenai perbedaan berbagai macam parfum dan bahan-bahan pembuatnya. Sangat menarik!

Sorenya kami meluncur ke sebuah hotel di sebuah kota kecil bernama Kerpen. Walaupun kotanya kecil, tapi di situ ada berbagai macam rumah makan dan toko-toko besar. Saya bahkan sempat membeli sepasang sepatu Nike AirMax di sebuah toko peralatan olahraga yang terletak di seberang hotel.

Hari Ketiga: Melintasi Batas Antar Negara, Bermalam di Hoofddorp

Seperti hari sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk lari pagi menikmati udara segar di Kerpen, blusukan ke ladang-ladang dan kandang-kandang kuda yang banyak terdapat di sekitar hotel tempat kami tinggal. Saya suka dengan kota kecil ini.

Selesai sarapan, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke negara tetangga, Belanda. Hotel tempat kami menginap selanjutnya terletak di Hoofddorp, sekitar 20 menit naik kereta ke Amterdam. Saat tiba di hotel, kami belum bisa check-in, sehingga kami hanya bisa parkir mobil saja lalu berjalan ke stasiun kereta yang terletak tak jauh dari hotel.

Amsterdam adalah sebuah kota yang sangat ramai. Lebih ramai daripada yang saya bayangkan sebelumnya. Kami mengikuti sebuah canal cruise tour, yang membawa seluruh penumpang mengitari kanal-kanal. Lumayan sih, walaupun agak membosankan.

Kami berada di pusat kota Amsterdam hingga jam makan malam sebelum akhirnya kembali ke hotel untuk beristirahat dan menyimpan energi untuk keesokan harinya.

Hari Keempat: Lanjut ke Brussels, Mampir di Keukenhof dan Rotterdam

Pagi hari, setelah lari pagi dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan utama ke kota Brussels, Belgia. Namun, kami mampir di taman Tulip paling terkenal di Belanda, namanya Keukenhof. Taman ini sangat ramai dikunjungi orang. Ketika kami tiba di sana, waktu baru menunjukkan pukul 9 pagi, tapi antrian untuk masuk ke dalam area taman sudah mengular. Luar biasa!

Kami menghabiskan sekitar 1 jam berkeliling di dalam taman dan berfoto-foto ria. Maklum, sedang jadi turis nih. Hehehe.

Selesai dari Keukenhof, kami mampir lagi di kota Rotterdam untuk bertemu dengan seorang teman lama, Dino Dinarga beserta keluarganya. Dino sudah setahun lebih tinggal di kota untuk kuliah dan bekerja. Kami makan siang bersama di sebuah rumah makan kecil di pinggiran sebuah sungai (atau kanal?) yang saya lupa namanya.

Setelah berpamitan dengan Dino and family, kami lanjut lagi meluncur ke ibukota negara Belgia, Brussels, yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan darat mengendarai mobil dari Rotterdam. Kami tiba di hotel saat hari sudah cukup sore, sehingga setelah beristirahat sebentar, kami langsung mencari tempat untuk makan malam. Untuk ke tempat yang dituju, kami menggunakan tram. Akhirnya kami makan di sebuah kedai kecil yang menyediakan masakan Jepang.

Hari Kelima: Berkunjung ke Museum Komik, Bertolak ke Paris

Setelah check-out dari hotel, kami mengunjungi Belgium Comic Museum. Di sini pengunjung bisa melihat dan mempelajari banyak hal tentang perkomikan, mulai dari sejarah komik, metode pembuatan komik, galeri-galeri dari para komikus terkenal di dunia dan banyak lagi. Intinya, museum ini adalah surga bagi para pecinta komik. Kalau ke Brussels, kudu harus wajib datang ke sini.

Tokoh komik Tintin dan Smurf adalah yang paling banyak diangkat di sini, mungkin karena pencipta kedua komik tersebut berasal dari Belgia juga.

Setelah puas menjelajahi museum komik, kami berjalan kaki mencari lokasi Mannekken Pis, patung anak kecil yang sedang pipis dan menjadi ikon kota Brussels. Setelah berputar-putar selama beberapa saat, akhirnya kami berhasil menemukan lokasi patung tersebut. Pantas saja sudah dicari, karena ternyata patung ini memang seperti layaknya patung biasa saja yang ditempatkan di pojokan jalan kecil. Weleh, weleh.

Selepas makan siang, kami langsung menuju ke stasiun kereta. Mobil yang sudah kita kendarai selama 5 hari ini mesti di-drop di sini. Kami ke Paris menggunakan kereta dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Sesampainya di stasiun kereta Paris yang penuh sesak dengan manusia, kami harus berganti kereta untuk menuju ke apartemen tempat kita akan tinggal selama di Paris. Agak perjuangan juga sih, soalnya kami harus menggeret-geret koper yang berukuran cukup besar melalui eskalator dan lift.

Alhamdulillah, kami tiba di apartemen dengan selamat. Pemilik apartemennya ramah dan dia sudah menunggu kami sejak sore, katanya. Apartemennya bagus dan sangat nyaman, sehingga kami bisa beristirahat sebelum menjalani hari berikutnya.

Diundang Makan

Atasan saya di kantor adalah seorang Qatari. Usianya sekitar 8 tahun lebih muda daripada saya. Orangnya ramah dan senang bergaul. Waktu saya bercerita bahwa Ayah saya saat ini sedang berada di Qatar, beliau langsung mengundang saya dan Ayah saya untuk makan malam. Tentu saja saya tak bisa menolak undangan ini.

Maka, kemarin malam, kami berdua pun datang memenuhi undangan atasan saya di sebuah kafe kecil di kawasan The Pearl Qatar. Kafe ini menyediakan hidangan tradisional Qatar.

Seorang kolega yang juga Qatari juga ikut hadir bersama kami. Sembari menikmati lezatnya hidangan yang ada, kami pun mengobrol tentang berbagai macam hal, mulai dari yang lucu-lucu hingga yang agak serius. Dua jam pun terlewati tanpa terasa.

IMG_0391

Piknik di Singing Dune

Sore ini kami bergabung dengan beberapa teman dan keluarga untuk berpiknik ria di Singing Dune. Kenapa namanya singing dune? Karena kalau kita meluncur dari puncak dune ke bawah, gesekan antara badan kita dan pasir akan menimbulkan suara-suara berdengung, mirip seperti sebuah instrumen musik.

Pada piknik kali ini, menu utamanya adalah kambing pendhem ala Arab. Kami membeli 2 ekor kambing muda utuh yang sudah dibumbui dan dibungkus dengan kertas alumunium. Kedua ekor kambing tersebut kemudian dikubur dalam sebuah lubang sedalam kurang lebih 60 sentimeter yang sudah diisi dengan bara api selama kurang lebih 2 jam.

Sementara menunggu kambing pendhem-nya matang, kami memanjat ke atas bukit pasir dan menikmati pemandangan dari atas bukit. Naik ke atas bukit membutuhkan tenaga yang tak sedikit. Bagi kita yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, mendaki bukit pasir ini adalah sebuah perdjoeangan. Namun, bagi anak-anak seperti tidak demikian. Mereka dengan ringan dan riangnya naik turun bukit beberapa kali tanpa terlihat lelah.

Ayah saya yang kebetulan baru tiba di Qatar tadi pagi juga ikut naik ke atas bukit. Saya agak takjub juga karena usia beliau sudah hampir mencapai 70 tahun!

Kambing pendhem sudah siap untuk dibongkar dari dalam tungku pasirnya menjelang maghrib dan kami pun menikmati makan malam di tengah gurun dengan menu kambing pendhem berbumbu khas Arab. Mantap!

Menyelesaikan 10K Pertama di Doha College Run

Alhamdulillah pagi ini saya berhasil menyelesaikan lari 10 kilometer dalam event lari Doha College Run di Aspire Park, Doha. Ini adalah lari 10 kilometer pertama yang pernah saya lakukan. Iya, walaupun saya sudah sering lari sebelumnya, tapi jarak maksimal yang pernah saya lalui adalah 9.5 kilometer saja. 🙂

Event ini terbagi dalam 2 kategori: 5K dan 10K. Untuk yang 10K, peserta sudah harus bersiap di garis start sebelum pukul 7. Pesertanya lumayan banyak, mungkin sekitar 200-an orang. Untuk menyelesaikan 10 kilometer, setiap peserta mesti menyelesaikan 4 putaran (lap) yang masing-masing berjarak 2.5 kilometer.

Pada saat lap pertama, saya merasa pace saya terlalu cepat sehingga nafas terasa terlalu ngos-ngosan. Mungkin karena tanpa sadar saya ingin mengimbangi kecepatan para peserta lain sehingga saya berlari lebih cepat dari yang sudah saya targetkan. Akhirnya setelah memasuki lap kedua, saya mulai mengurangi pace dan berusaha mengatur nafas lagi.

Alhamdulillah setelah itu, hingga menjelang memasuki garis finish, saya bisa menguasai tempo lari dan nafas. Pada satu kilometer terakhir, saya mulai sedikit meningkatkan pace kembali dan akhirnya saya bisa menyentuh garis finish dengan catatan waktu 1 jam 4 menit.

15036227_10154712502713377_7118036799555927150_n

Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Kalau ada kegiatan serupa, saya pasti akan ikut lagi. Mumpung cuaca di Doha sedang enak-enaknya. 🙂

Lulus Sertifikasi Menyelam Open Water

Pertama, saya mau mengakui bahwa saya tidak bisa berenang. Ya kalau sekedar mengapung dan berenang ala kadarnya sambil main air saya masih bisa. Tapi kalau saya disuruh berenang bolak-balik dengan gaya yang proper, dijamin saya pasti gagal.

Lalu kenapa saya nekad ikut kursus diving? Alasan utamanya ya karena saya memang ingin bisa menyelam dan bisa berlibur dan menikmati tempat-tempat penyelaman terkenal yang banyak terdapat di Indonesia. Waktu instruktur selam saya ditanya, apakah saya harus bisa berenang. Beliau menjawab, tidak harus. Ya sudah, saya lantas mendaftarkan diri untuk mengambil sertifikasi selam yang nama resminya adalah Open Water Diving Course.

Kursus ini adalah kursus dasar menyelam dengan alat bantu pernafasan atau SCUBA. Setelah lulus dari kursus ini, maka peserta kursus akan mendapatkan surat ijin atau license untuk menyelam hingga kedalaman 18 meter di bawah permukaan laut.

Kursusnya sendiri terbagi atas 3 bagian: teori, praktek di kolam dan praktek di laut (open water). Untuk kelas praktek di laut lepas, ada 4 kali dive yang harus dilalui. Dalam setiap dive tersebut, ada beberapa set tindakan yang harus dikerjakan oleh setiap peserta, misalnya bagaimana jika dalam keadaan darurat kita harus kembali ke permukaan air dengan selamat, atau bagaimana jika alat bantu pernafasan mengalami masalah dan kita harus berkomunikasi dengan rekan selam (buddy) untuk menggunakan alat pernafasannya. Peserta dinyatakan lulus oleh instruktur selam jika sukses melewati semua dive tersebut dan berhak mendapatkan license Open Water Diving.

img_0392

Bagi saya pribadi, tentu ini merupakan pencapaian yang lumayan membanggakan mengingat bagaimana saya harus melawan rasa takut karena harus berada di dalam air dalam waktu yang cukup lama (karena saya tak biasa dan tak mahir berenang) dalam kondisi di mana saya harus bernafas melalui mulut.

Menahan Diri

Pilkada DKI kali ini mengingatkan saya kepada ajang pemilihan presiden 2 tahun lampau. Saat itu sepertinya rakyat Indonesia terbelah menjadi dua kubu, pendukung Jokowi atau pendukung Prabowo. Begitu terpolarisasinya rakyat Indonesia, sampai-sampai kalau kita tidak suka dengan Prabowo, maka kita akan dituduh sebagai pendukung Jokowi. Begitu juga sebaliknya.

Linimasa di media sosial dan perbincangan di Whatsapp atau BBM juga hampir selalu berputar di sekitar urusan pilpres. Adu pendapat, lempar isu, berbagi artikel dan berita yang kerap kali tidak valid dan tidak jelas sumbernya, semuanya jamak dilakukan demi mendukung jagoan masing-masing. Yang lebih menyedihkan, perbedaan-perbedaan tersebut sering meruncing dan berakhir dengan perseteruan yang gak penting. Hubungan antar saudara, kerabat dan pertemanan jadi merenggang gara-gara mendukung capres yang berbeda. 

Sekarang suasananya hampir mirip. Tak salah jika mantan presiden SBY bilang ini adalah Pilkada rasa Pilpres. Semua petinggi parpol turun gunung. Banyak rakyat Indonesia, yang bukan warga Jakarta tentunya, ikut merasa berkepentingan terhadap pilkada di ibukota negara ini.

Perang dukungan lebih seru terjadi di dunia maya. Saling serang berbekal foto, artikel, opini, berita, data dan lain sebagainya hampir selalu memenuhi linimasa saya di media sosial. Apalagi sejak kasus Al-Maidah 51 yang menimpa salah satu calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Gaduhnya dunia persilatan di Indonesia semakin menjadi!

Saya sendiri sekarang lebih berusaha menahan diri dan tidak mem-posting apa pun yang berbau pilkada DKI. Bukan karena saya tak punya preferensi terhadap salah satu calon yang ada, melainkan karena saya ingin menjaga tali pertemanan saja. Banyak teman-teman saya di berbagai media sosial yang mendukung calon yang lain, atau lebih tepatnya mendukung calon yang lain asal bukan Ahok. 

Mereka juga rajin menyampaikan pendapat dan berbagi artikel yang isinya tentu mendukung sikap mereka. Seringkali saya gatal ingin mengomentari, karena menurut saya isinya kadang ngawur, tidak valid, atau bisa saya patahkan dengan argumen lain. Tapi demi pertemanan, saya telan sendiri saja. Kadang saya lampiaskan ke istri saya juga waktu kami mengobrol berdua. Alhamdulillah istri saya adalah seorang pendengar yang baik. 

Semoga Pilkada DKI berjalan lancar dan aman. 

Hari Pertama Sekolah

Dikabarkan pagi ini sekitar 300 ribu pelajar mulai masuk sekolah lagi. Lalu lintas sudah pasti lebih padat dibandingkan beberapa minggu belakangan ini. Untungnya tadi pagi saya tidak terlambat berangkat ke kantor sehingga tidak terjebak kemacetan di jalan raya. 

Luna dan Bima sudah mulai belajar di sekolah barunya, GEMS Wellington. Istri saya mengabari bahwa si Luna terlihat begitu santai dan tenang mengawali hari pertamanya di sekolah. Kebetulan ada 2 temannya yang dulu sama-sama bersekolah di GEMS American Academy, kini juga berada di kelas yang sama.

Kalau Bima masih belum nyaman dengan lingkungan barunya. Itu sebabnya dia sempat menangis tadi pagi saat diantar ke kelas. Tapi biasanya kalau dia sudah menemukan kenyamanan, dia akan baik-baik saja. Mudah-mudahan dia bisa cepat beradaptasi.